Ada Apa dengan : Kemasan dengan Isi dan Buku dengan Sampulnya?

Oleh : Ustadzah Tika (Guru IPS SMP Progresif Bumi Shalawat)

Teringat dawuh-nya abah (KH. Agoes Ali Masyhuri), ketika itu dalam tausiyahnya terdapat salah satu point yang hingga kini masih melekat baik di hati maupun pikiran saya. Yakni semakin banyak orang yang ‘lebih mementingkan kemasan dari pada isinya’. Dalam banyak hal, yang beliau sebutkan salah satunya ialah jabatan. Jabatan diibaratkan kemasannya atau bungkusnya, sedangkan pelayanan, amanah dan kejujuran ialah isinya. Dewasa ini tak sedikit dapat kita temui persoalaan perebutan jabatan, mereka yang mencari jabatan tidak segan melakukan berbagai cara agar dapat meraih posisi yang diinginkannya. Tanpa lagi menyadari dengan cara yang seharusnya ataukah tidak, dengan kecurangan ataukah dengan prestasi. Setelah memperoleh jabatan yang diinginkan, lantas mereka tak lagi mempedulikan ‘isi’, setelah mendapatkan apa yang ia dapatkan lanta ia akan mengesampingkan yang menjadi kewajibannya yakni amanah yang harus dilaksanakan, untuk memberikan yang terbaik dan mengedepankan azaz kejujuran yang semakin sulit kita lakukan bahkan untuk hal-hal yang sepele dalam kehidupan sehari-hari.

Beralih pada pokok bahasan yang lain namun masih dalam satu tema, muncul sebuah tanya : ‘Manakah yang lebih kamu pentingkan, parasnya atau kepribadiannya?’. Sebagai seorang muslim kepribadian pastinya tak dapat dipisahkan dengan akhlak. Masih saya ingat betul ketika abah bertanya pada kami ‘Mana yang lebih kalian pilih? Bungkus atau isinya?’. Samar-samar kami menjawab ‘isi’, lantas abah berkata ‘itu bukanlah sebuah jawaban yang cerdas’. Lantas harus bagaimana gumam saya hati, dan kemudian abah berkata ‘rawat bungkusnya dan nikmati isinya’. Jawaban yang menakjubkan, sehingga seketika itu juga muncul senyum-senyum simpul dibibir kami dan anggukan kepala menandakan jika kami sepakat dengan apa yang beliau katakan.

Entah mengapa, setelah mendengar tausiyah abah mengenai bungkus dan isinya, saat perjalanan pulang dari sekolah terlintas di benak saya akan pepatah lama ‘Don’t judge the book by the cover’. Dalam menjalin pertemanan, pergaulan, persahabatan pada awalnya pasti kita akan melihat ‘sampulnya’ terlebih dahulu (meskipun tidak semua orang, namun saya yakin sebagian besar akan seperti itu). Dua petuah yang saling menguatkan bukan? Bahwa pada intinya kita tidak boleh tertipu oleh tampilan luarnya saja akan tetapi pahami terlebih dahulu apa yang ada didalamnya, apapun itu terlebih untuk hal-hal yang sifatnya penting diantaranya yakni sahabat.

Berbicara tentang buku, ada dialog yang terjadi antara hati dengan pikiran saya. Berbicara tentang seseorang, saya ibaratkan ia sebagai sebuah buku. Saya tekankan pada diri sendiri agar tidak menghakiminya dari tampilan luarnya saja, tetapi saya berusaha sekuat yang saya bisa untuk membaca isinya halaman demi halaman, lembar demi lembar, bab demi bab, berusaha menyabarkan hati untuk memahami isi dari buku yang sedang saya ‘baca’ ini. Mencoba mengerti apa yang hendak disampaikan oleh buku tersebut tanpa harus memperotes gaya bahasanya, tanpa harus menyalahkan penulisnya mengenai alur yang tak saya sukai, tanpa harus mencaci sang penulis karena menggunakan setting yang tidak sesuai. Karena ia adalah sebuah buku yang telah diciptakan oleh ’penulisnya’. Yang harus saya lakukan ialah memahami, dan mempelajarinya hingga pada akhirnya saya tuntaskan buku tersebut. Dan bagian yang teramat penting dari ‘membaca’ sebuah buku ialah bagaimana caranya agar saya dapatmenjadi seseorang yang paling mengerti, yang paling paham dari isi buku tersebut. Mengapa? Karena dengan ‘mengerti’ saya dapat menentukan langkah, saya dapat menentukan sebuah tindakan dengan tepat karena saya sudah paham akan maksud sang penulisnya.

Lantas? Bagaimana dengan anda?

Mana yang lebih diprioritaskan? Bungkus ataukah isinya?

 

By : Ustadzah Tika (Guru IPS SMP Progresif Bumi Shalawat)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *