Ciptakan Budaya Bertanya

Oleh : MA Fahmi*

Dalam setiap pembelajaran, forum-forum diskusi ilmiah, atau majelis ilmu, sering kita mendengar pernyataan “ada yang bertanya” baik dari guru, moderator, nara sumber, atau apapun namanya. Lantas muncul tanggapan dari para murid, hadirin atau audience. Beragam cara mereka menanggapinya. Ada yang berebut angkat tangan, sebaliknya banyak yang diam membisu tidak merespon sama sekali.

Dua perilaku ini sama-sama mempunyai arti yang beragam. Mereka yang berebut angkat tangan bisa jadi memang kurang paham terhadap apa yang sudah diterimanya dari penjelasan sebelumnya; ada yang sudah paham tapi ingin diperjelas lagi; ada juga yang iseng ingin menguji pematerinya. Sebaliknya, yang tidak mengangkat tangan bisa jadi mereka sudah paham sehingga tidak perlu bertanya lagi, atau malah mereka kebingungan terhadap materi yang sudah disampaikan tetapi mereka takut untuk bertanya.

Jika dalam suatu forum banyak sekali pertanyaan yang diajukan tentu ini sangat menggembirakan khususnya bagi pematerinya. Dalam konteks proses belajar mengajar di kelas, rententan pertanyaan dari murid setelah penyampaian materi akan sangat menyenangkan dan menggembirakan bagi seorang guru.

Menurut penulis, minimal ada dua alasan mengapa hal tersebut sangat menyenangkan dan menggembirakan. Pertama, ini menunjukkan bahwa dalam proses transfer informasi yang terjadi tidak ada hambatan (neglect). Dalam teori komunikasi sederhana sering disebutkan bahwa proses komunikasi yang terjadi biasanya terjadi antara pengirim pesan (sender), media, penerima pesan (receiver) dan feed back. Proses yang terjadi di atas bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan yang berarti sehingga seluruh informasi yang disampaikan bisa diterima oleh audience. Kedua adanya feedback dari audience. Setelah proses transfer informasi yang penulis sebutkan tadi sudah berjalan dengan baik maka respon dari audience akan muncul, namun kadang-kadang meskipun proses pertama sudah baik, respon ini tidak muncul karena mungkin ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh pematerinya.

Dalam sejarahnya, Nabi Saw. sendiri ketika berkumpul dengan para sahabat sering sekali memberi pemahaman ilmu baru dengan proses tanya jawab, baik terkait dengan masalah tauhid atau ibadah-ibadah yang bersifat muamalah. Salah satu contohnya adalah ketika Nabi berbicara kepada para sahabat tentang besarnya nikmat Allah dibandingkan dengan amal shaleh kita. Amal shaleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan shalat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Biarpun amal shaleh yang kita kerjakan nyaris sempurna seumur hidup namun belum sebanding dengan nikmat surga yang telah dijanjikan Allah.

Kata Nabi Saw, “Amal shaleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?” Jawab Nabi Saw, “Amal shaleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya, “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Nabi Saw. kembali menjawab, “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi, shalat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Hanya dengan rahmat Allah kita mendapatkan surga-Nya. Contoh di atas membuktikan bahwa Baginda Rasul junjungan kita dalam menyampaikan materi dakwahnya juga melakukan upaya-upaya agar ada respon dari para sahabat (suatu perilaku cerdas yang wajib kita tiru sebagai pendidik ).

Dalam Al qur’an juga disebutkan adanya perintah untuk bertanya sesuatu, dan ketika kita tidak tahu maka ada suruhan agar bertanya kepada ahli ilmu.

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” ( QS Al-Anbiyaa’/ 21: 7).

Untuk itu mari kita budayakan bertanya tentang hal-hal yang tidak kita ketahui. Kita mulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan keberanian. Menurut seorang sahabat sambil berseloroh pernah mengatakan, ‘Bertanyalah sebelum bertanya itu dikenakan biaya atau bertanyalah sebelum bertanya itu terkena pasal subversif”.

Maka dari itu wahai para Ustadz/Ustadzah, mari kita tumbuhkan keberanian bertanya bagi anak-anak kita karena bertanya itu pun merupakan ibadah.

Bagaimana pendapat saudara?

*Penulis adalah Wakil Kepala SMP Progresif Bumi Shalawat dan Guru mata pelajaran IPS

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *