Happy Graduation Kakak Kelas 9

“Sampai jumpa dan sampai bertemu kembali saat sukses nanti” itulah iringan lagu ketika para wisudawan dan wisudawati Sekolah Progresif Bumi Shalawat memasuki tempat digelarnya acara wisuda Sabtu, 20 Mei 2017. Sekolah Progresif Bumi Shalawat telah meluluskan angkatan pertama untuk jenjang SMA dan angkatan keempat untuk jenjang SMP. Nuansa haru dan hikmat terasa dalam prosesi yang meluluskan sekitar 238 siswa tersebut. Dibalik rasa senang karena telah menyelesaikan pendidikan, ada sebersit kesedihan karena harus meninggalkan pondok pesantren yang tercinta ini. Setelah hidup lebih dari dua tahun melalui masa suka dan duka bersama.

Acara wisuda dibuka dengan lagu yang sangat menyentuh hati, dinyanyikan oleh tim paduan suara Sekolah Progresif Bumi Shalawat. Acara dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ghoniyyah Azza Ilmiyyah dan Naila Riezqi S itu dapat menyejukkan hati para wali santri. Berbagai acara hiburan ditampilkan seperti pertunjukan tari dan banjari sebelum acara utama dimulai.

K.H Agoes Ali Masyhuri selaku pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat atau yang kerap dipanggil Abah Ali itu menyampaikan beberapa tausiah dengan tema “kiat sukses”. Beliau menyampaikan bahwa seseorang yang ingin sukses harus melaksanakan empat syarat, yang pertama adalah harus disiplin dan bekerja keras. Orang yang sukses dengan kecerdasan saja hanya mencakup 25%, sedangkan orang sukses dengan keuletan, kerja keras, disiplin itu mencakup 75%.

Yang kedua adalah mempunyai waktu yang banyak. Maksud dari syarat kedua ini bukan berarti memiliki waktu lebih dari 24 jam, maksudnya adalah harus pandai dalam mengatur waktu. Bisa mengatur waktu pada saatnya, bisa mengerti dimana waktu untuk belajar, waktu untuk bermain, dan mempergunakan waktu dengan semestinya.

Kiat yang ketiga adalah mempunyai mimpi yang tinggi. Setiap orang harus memiliki mimpi yang sangat tinggi. Jangan takut untuk meraihnya. Kiai H. Agoes Ali Mashuri mengatakan meskipun dari mimpinya tersebut hanya 5% yang terwujud, itu saja sudah besar karena mimpi yang dimilikinya itu sangatlah tinggi. Namun jika yang tercapai hanya 5% dari mimpi yang sangat kecil maka itu sama saja dengan tidak memiliki mimpi.

Kiat yang terakhir adalah menyempatkan bangun ketika sepertiga malam terakhir atau bisa disebut dengan mengetuk pintu langit. Untuk apa kita bangun ketika sepertiga malam? Jawabannya adalah untuk melaksanakan sholat tahajud dan memanjatkan doa kepada Allah jika kita tidak bisa melaksanakan kita bisa membaca tasbih pada saat kita melihat langit karena kita mengetahui jika langit itu sangatlah luas.

Kiai H. Agoes Ali Mashuri juga mengatakan bahwa Allah SWT  berfirman “Barang siapa yang memanjatkan doa ketika sepertiga malam terakhir maka Aku akan mengabulkan doanya”. Setelah menyampaikan tausiahya, Kiai H. Agoes Ali Mashuri mendoakan angkatan pertama agar diterima di universitas-universitas yang diinginkan dan kelak menjadi anak-anak yang sukses dan berbakti kepada kedua orang tua.

Acara selanjutya adalah sambutan dari perwakilan wali santri untuk menyampaikan kesan dan pesan selama anaknya menuntut ilmu di Sekolah Progresif. Bapak dari santri Muhammad Khafabillah, Drs. H. Ahmad Ahid Sughfaji, S.Q., M.Si.  mengatakan bahwa beliau bersyukur karena telah mempercayai Sekolah Progresif selama ini. Anaknya yang dulu tidak bisa apa-apa, sekarang menjadi apa yang ia inginkan. Beliau bangga dengan Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat karena dapat mendidik anaknya dengan sangat baik. Sejak dulu, beliau selalu mempercayakan anaknya untuk bersekolah di Podok Pesantren Progresif Bumi Shalawat. Awalnya anaknya menolak untuk masuk pesantren, namun lambat-laun ketika ditanya oleh beliau, “Bagaimana mondoknya?” Anaknya menjawab bahwa ternyata mondok itu sangat enak dan menyenangkan, karena bisa memiliki banyak teman. Dari situ beliau sudah tidak ragu lagi untuk memasukkan anak-anaknya di pesantren.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, yakni pengumuman best santri dan pembagian piagam kelulusan. Satu per satu santri telah dipanggil naik ke atas panggung untuk menerima piagam kelulusan. Seluruh santri pun berdebar ketika pembawa acara mengumumkan gelar best santri. Gelar best santri untuk tahun ajaran 2016/2017 diraih oleh peringkat satu berturut-turut try out, Thazkiyah Ghifara. Tatapan takjub teman-temannya mengiringinya saat berjalan naik ke atas panggung. Ayahnya tanpa pikir panjang langsung berlari maju ke depan dan memotret anak kesayangannya itu. Teman-temannya tidak heran jika Tazkiyahlah yang mendapat gelar best santri karena dalam kesehariannya, dia adalah anak yang baik hati, rajin, dan sangat ulet.

Suasana sedih kembali menyeruak ketika angkatan pertama menyanyikan lagu perpisahan di atas panggung. Mereka bernyanyi sambil mengenang masa lalu saat pertama kali mereka masuk di pondok pesantren Progresif Bumi Shalawat. Enam tahun mereka telah bersama dalam susah dan senang. Menurut mereka enam tahun bukanlah waktu yang cepat untuk mengubah diri menjadi seorang yang berkepribadian luhur. Ketika lantunan musik selesai, mereka turun dari panggung menuju para guru untuk bersalaman dan meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. Para gurupun ikut menangis haru karena harus melepaskan anak didiknya. Nah teman itulah liputan tim J untuk acara wisuda kita doakan semoga kakak kelas kita meraih impian yang dicita-citakan. Sampai jumpa diacara wisuda selanjutnya.  [ven, mir]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *