INOVASI DALAM PEMBELAJARAN ADALAH SEBUAH KEHARUSAN

 

Oleh : Ustadz Fahmi (Kepala SMP Progresif Bumi Shalawat)

Proses pembelaran dalam dunia pendidikan terus mengalami perubahan dan perbaikan, dahulu proses pembelajran sangat bertumpu pada guru sebagai sumber utama dalam pembelajaran, tetapi dengan berkembangnya teknologi dan juga metode pembelajaran itu sendiri maka guru bukanlah satu satunya sumber belajar, namun banyak hal yang bisa digunakan sebagai sumber belajar bahkan saat ini pembelajran wajib fokus pada peserta didik, dimana peserta didik juga merupakan salah satu sumber belajar .

Guru sebagai pendidik juga harus bisa mengikuti perkembangan yang terjadi, sehingga dalam pembelajran sudah tidak lagi menggunkan cara-cara lama yang membuat pembelajaran menjadi menjemukan dan membosankan bagi peserta didik, seorang pendidik dituntut untuk bisa memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik tentu dengan berbagai macam inovasi dalam pembelajaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti dari inovasi adalah sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dengan kata lian inovasi adalah suatu hal yang baru, yang keberadaannya sangat memberikan manfaat. Inovasi erat kaitannya dengan pembelajaran yang melibatkan guru dan peserta didik.
Sedangkan pembelajaran menurut Gagne dan Briggs (1979:3) adalah suatu system yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Artinya ada proses atau kegiatan yang sangat membantu interaksi guru dan peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Dari pengertian inovasi dan pembelajaran tersebut maka makna inovasi pembelajaran merupakan metode baru yang berbeda yang digunakan untuk membantu proses interaksi guru dan peserta didik dalam memeperoleh pengetahuan.

Dalam implementasinya seorang pendidik dituntut untuk memberikan segala kemampuan yang terbaik yang dimilikinya kepada peserta didiknya dalam proses pembelajaran. KH. Agoes Ali Masyhuri ( Gus Ali ) pengasuh pesantren progresif Bumi Shalawat pernah mengatakan menjadi seorang pendidik tidak cukup hanya bermodalkan pintar saja tetapi juga harus cerdas dalam penyampaian materi kepada peserta didiknya sehingga dengan begitu pembelajaran akan berjalan dengan menarik, menyenangkan dan memberikan hasil pemahaman yang optimal terhadap peserta didiknya

Dalam Agama Islam Rasulullah Muhammad SAW dalam pembelajaran juga memberikan contoh-contoh kepada umatnya tentnag pembelajaran yang inovatif ini, dalam suatu kesempatan Rasul memberikan suatu pernyataan yang memancing audiencenya untuk menanggapi pernyataan Rasul tersebut.  Peristiwanya seperti ini, Nabi Saw bersabda dalam sebuah majelis, “Amal shaleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Mendengar hal itu para sahabatpun bertanya, “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?” Jawab Nabi Saw, “Amal shaleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya, “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Nabi Saw. kembali menjawab, “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi, shalat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Hanya dengan rahmat Allah kita mendapatkan surga-Nya. Contoh di atas membuktikan bahwa Baginda Rasul junjungan kita dalam menyampaikan materi dakwahnya juga melakukan upaya-upaya agar ada respon dari para sahabat (suatu perilaku cerdas yang wajib kita tiru sebagai pendidik ).

Untuk itu kita sebagai pendidik harus terus belajar dan memaksa diri kita untuk bisa membuat inovasi dalam pembelajaran di kelas kita masing-masing, karena  meskipun kita sebagai pendidik, pada dasarnya kita adalah pembelajar dan untuk menjadi seorang pembelajar sejati, kita dituntut untuk terus belajar kita dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan dalam bidang keilmuan masing-masing. Dalam rangka meningkatkan kemampuan tersebut, kita dapat belajar dari berbagai buku. Kita juga dapat berdiskusi dengan teman-teman pendidik lain yang dirasa lebih mumpuni dan berpengalaman. Bahkan, kadang kita mendapatkan “sesuatu yang lebih” dari anak-anak didik kita.

Sebagai tenaga pendidik, kita tentunya mempunyai kemampuan dan pengetahuan sedikit lebih banyak daripada anak didik kita. Nah, bagian yang sedikit itu  harus dapat kita transfer kepada anak didik kita. Proses transfer ilmu tersebut tentunya harus dibarengi pembelajaran yang inovatif dengan metode-metode yang mendukung terciptanya situasi yang kondusif dalam pembelajaran. Pendidik lantas hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Pendidik hanya memberikan arahan agar potensi dalam diri tiap anak dapat berdayaguna optimal. Optimal di sini dapat dipahami sebagai keadaan ketika potensi dalam diri mereka suatu saat menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah, bahkan tak berani mereka mimpikan. Kesuksesan akan mereka raih, jika anak didik kita sudah meraih kesuksesan tidak dapat dipungkiri sebagai pendidik kita akan merasa bangga, bahagia seperti bangga dan bahagianya peserta didik kita, perasaan yang sama antara pendidik dan pesertra didiknya,  karena sesungguhnya separuh dari pendidik adalah anak didiknya.

Semoga bermanfaat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *