Guru

Istri Yang Ideal

Oleh : Nur Alamsyah

Sejarah tidak pernah bercerita kepada kita tentang kisah Nabi Muhammad saw. yang mengenal wanita lain atau hatinya tergerak untuk mencintai wanita lain sebelum Khadijah.

Hidup Muhammad saw., bahkan menginjak usia 25 tahun, adalah potret seorang pemuda kalem yang jauh dari seorang wanita. Pada usia itu, urusan bersenang-senang atau menjalin keakraban dengan wanita sama sekali tak terpikirkan olehnya. Jadi, apa yang dipikiran Muhammad saw. di usia mudanya itu?

Setiap pemuda pasti membayangkan kehadiran wanita cantik dalam hidupnya. Ini beda dengan Muhammad saw., yang telah dijanjikan bakal memikul risalah besar, hidupnya habis dalam penantian kedatangan risalah itu. Siapa yang bakal tahu, andaikan Khadijah bukan yang memulai mengutarakan cintanya kepada Muhammad saw., maka apa yang terjadi pada manusia mulia ini?

Belum ada tanda-tanda dalam diri Muhammad saw. yang menunjukkan ingin segera menikah. Ia berjalan melintasi kedalaman batinnya dan tenggelam dalam mimpi tentang cita-citanya yang besar seolah ia tidak sedang menginjak bumi.

Sampai suatu ketika dia bertemu Khadijah, perempuan kaya raya dan pebisinis. Khadijah mengutus sejumlah anak buahnya dan menyewa beberapa orang untuk perjalanan dagang ke Syam. Di antara rombongan itu ada Muhammad saw. Di tangan Muhammad saw. barang dagangan Khadijah meraup keuntungan yang berlipat-lipat yang belum pernah dicapai oleh anak buah Khadijah.

Cerita kesuksesan dagang Muhammad saw. ini lantas diceritakan oleh Maisarah kepada tuannya. Maisarah melihat dalam diri Muhammad saw. tertanam sifat jujur dan amanah selama berdagang. Inilah yang akhirnya membuhulkan rasa cinta dalam hati Khadijah.

Bukan sepotong cinta yang ingin menguasai, tapi cinta yang tulus, mulia, agung hingga meluluhkan hati Muhammad saw. Ini adalah cinta yang hebat dari seorang wanita bangsawan terhormat, yang memulai menyatakan rasa cintanya kepada seorang pemuda miskin. Padahal, bangsawan Quraisy banyak yang menaruh hati pada Khadijah, tapi kesemuanya tidak bisa meluluhkan hatinya.

Khadijah pun mengutus salah seorang pembantu wanitanya untuk menemui Muhammad saw. kemudian melamarnya lalu menikah. Hingga dalam kehidupan rumah tangganya Khadijah melihat sendiri bagaimana suaminya dilanda kecemasan dan ketakutan luar biasa. Seolah-olah ada persoalan besar yang mengusik hidupnya.

Suatu hari, Khadijah melihat suaminya sedang dicekam ketakutan saat masuk kamar.

“Selimuti aku, selimuti aku….” kata Muhammad saw. yang lari menghampiri istrinya.

Sang istri menyelimuti tubuh suaminya dengan penuh kasih sayang.

“Semoga kasih sayang selalu menyertaiku. Ceritakan kepadaku apa yang sedang menimpamu!” pinta Khadijah.

“Pada saat aku berkhalwat, aku mendengar suara yang memanggil-manggil dari arah belakangku: hai Muhammad! hai Muhammad! Aku pun beranjak pergi lalu lari. Aku takut sekali. Aku telah melihat pancaran cahaya dan mendengar suaranya!”

“Tenangkan dirimu,” kata Khadijah. “Demi Allah, Allah tidak akan memperhina dirimu. Allah tidak akan melakukan hal itu kepadamu. Engkau orang yang suka menyambung tali silaturrahmi, berkata jujur, melaksakan amanat. Sesungguhnya dalam dirimu tertanam sifat terpuji.”

Inilah kelembutan ucapan seorang istri yang menghibur suaminya kala sedang sedih. Bukan menambah beban kesedihannya dengan mengucapkan kata-kata kasar, seperti yang dilakukan kaumnya yang tak henti-henti mencacimaki dan memusuhinya. Tapi Khadijah justru orang pertama yang beriman dan membenarkan semua ucapan Muhammad saw. yang hari itu tidak punya tempat lain untuk mencurahkan isi hatinya kecuali pada istrinya tercinta.

Di lain hari, sambil cemas, Muhammad saw. cerita kepada istrinya jika malaikat telah menemuinya, mengajaknya bicara, dan ia mendengar sendiri suara malaikat itu. Muhammad saw. ragu, yang ditemuinya itu malaikat atau setan?

Dengan nada mantab, Khadijah menenangkan hati suaminya.

“Jika ‘sahabatmu’ yang pernah menemuimu itu datang lagi menemuimu, katakan kepadaku!”

Ketika Jibril datang menemui Muhammad saw., segera beliau melaporkan kepada istrinya. Kemudian Khadijah melepas kerudungnya lalu berkata,

“Sekarang, apa kamu masih melihatnya?”

Muhammad saw. memperhatikan tamunya itu dan sudah tidak dilihatnya lagi.

“Tidak.” Tamu itu sudah pergi.

Khadijah memekik bahagia lalu berkata,

“Tenang dan bahagialah. Demi Allah, yang datang menemuimu adalah malaikat, bukan setan. Jika yang datang setan, maka tidak ada malu baginya.”

Demikian Khadijah yang setia di sisi Nabi saw.. Ia berhasil menepis keraguan dan kecemasan Muhammad saw. dan menjadi wanita pertama yang beriman kepadanya. Cinta kasih yang tulus itu dipersembahkan buat suaminya tercinta sampai ajal menjemputnya.

Ketika musuh-musuh Muhammad saw. mengetahui jika Khadijah bakal meninggal, mereka senang bukan kepalang. “Khadijah meninggal! Khadijah meninggal!” Sebuah kemenangan bagi mereka karena ada kelonggaran untuk melancarkan babak baru permusuhan dengan Muhammad saw. Bahkan Abu Lahab tidak bisa menyembunyikan emosinya tatkala Khadijah akan menghembuskan nafas terakhirnya. Paman Nabi ini mengakui kehebatan Khadijah dan itu disampaikan di hadapan pengikutnya, “Baguslah, sebentar lagi wanita itu mati. Dialah wanita yang selalu membantu dan mendukung perjuangan Muhammad.”

Khadijah meninggal, tapi cintanya tidak. Cintanya tetap utuh mengisi hati Nabi saw. sepanjang hayatnya.

Tidak ada wanita bisa yang menggeser kadar cinta Nabi saw. kepada Khadijah. Sekalipun Aisyah—istri yang paling dicintainya setelah Khadijah.

Dan Aisyah pun dibuat cemburu karenanya. Tak tahan cemburu, kali waktu itu ia terang-terangan mengungkapkan ganjalan hatinya di hadapan Rasulullah.

“Bukankan saat ini aku wanita yang terbaik di sisimu?”

“Khadijah bagaimana?” tanya Nabi saw. seketika.

“Engkau masih mengenang seorang wanita tua yang kedua rahang bawahnya tampak kemerah-merahan sedang dia sudah lama meninggal. Padahal Allah telah menggantimu istri yang lebih baik dari dia.”

Jelas, Aisyah terselip lidah. Ia tak mampu menjangkau apa istimewanya istri pertama Nabi saw., kecuali kemarahan yang akhirnya ia lihat pada air muka Nabi saw.

Rasulullah bangkit. Sebelum meninggalkan Aisyah, seolah ingin menghadirkan kembali Khadijah, berkata,

“Demi Allah, Allah tidak menggantiku seorang istri yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mendustakanku. Dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangi perjuanganku.”

Aisyah hanya bisa menahan amarahnya dalam hatinya sambil bergumam,

“Seolah-olah baginya di muka bumi ini hanya ada satu wanita, Khadijah!”

Benar, hanya sedikit di muka bumi ini wanita yang seperti Khadijah. Wanita yang jarang ditemui seperti Khadijah inilah sesungguhnya karunia Allah yang besar.[]

One thought on “Istri Yang Ideal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *