Guru

Jadilah Figur Teladan untuk Mereka

Ketika melihat perilaku anak didikku, terutama yang saya ajar, saya jadi bertanya-tanya, apa benar sudah separah ini degradasi moral anak-anak zaman sekarang?

Anak didik yang saya hadapi sekarang, kata seorang teman, masih mendingan. Artinya, moral mereka masih bisa ditata, diperbaiki dan diarahkan. Jika kondisi ini dibilang masih lumayan, saya tak habis pikir bagaimana situasi pendidikan di luar sana. Pendidikan non pesantren yang hanya berkutat pada ruang lingkup sekolah? Yang masak bodoh jika anak sudah di luar jam sekolah?

Sejujurnya, saya selalu bersedih hati kalau saya sebagai pengajar belum bisa mengarahkan anak-anak untuk perubahan yang lebih baik. Perubahan ke arah positif itulah sejatinya yang menunjukkan keberhasilan dalam mendidik. Menata moral anak tidak bisa dilakukan barang dua tiga tahun. Tapi butuh proses panjang. Dan yang penting, butuh keteladanan untuk mengubah perilaku mereka.

Ya, keteladanan. Saya kira saya masih dalam kategori sebagai pengajar. Saya akui, saya belum bisa totalitas dalam memberi keteladanan di hadapan murid-murid saya. Belum bisa dikatakan sepenuhnya sebagai pendidik! Mengajar beda dengan mendidik. Kata Gus Ali, orang yang kurang didik beda dengan orang yang kurang ajar.

Dan saya sendiri merasa belum totalitas mendidik mereka karena minimnya keteladanan yang saya berikan. Maka saya tidak bisa menyalahkan mereka apabila saya habis nuturi mereka, sesudah melakukan hal-hal yang ganjil, nasihat saya tidak dihiraukan, hingga membuka peluang mereka untuk kembali berbuat tidak baik.

Kenapa dakwah Rasulullah mudah diterima masyarakat kala itu. Saya pikir kuncinya adalah keteladanan dan etika yang mulia. Hampir semua yang pernah diucapkan oleh Rasulullah selalu dibarengi dengan amal nyata. Rasulullah tidak sekedar dakwah bil maqal, tapi mengajak dan mencontohi para sahabatnya dengan perilaku-perilaku yang mulia. Rasulullah mengajarkan jika bahasa perilaku lebih diterima daripada bahasa lisan. Karena itu, perkataan yang sesuai dengan perbuatan itulah yang membuhulkan keteladanan sehingga dakwah Rasulullah mudah diterima dan merasuk ke dalam kalbu. Orang-orang pun tanpa ragu menerima dakwah beliau.

Keteladanan dan etika mulia ini apabila melekat pada seorang pendidik, saya kira akan mudah bagi mereka untuk mengubah pola pikir dan perilaku menyimpang anak didik. Anak didik butuh keteladanan! Jika seorang pendidik mengatakan kalau X itu salah, kemudian memberi contoh dengan tidak pernah melakukan X, maka itulah indikasi kalau sang pendidik pantas untuk digugu lan ditiru.

Saya kira kalau misalnya seorang pendidik konsisten dengan yang salah itu salah lalu menjauhinya, kemudian menjelaskan ke anak didiknya kalau yang telah diperbuatnya itu tidak benar, saya yakin lambat laun anak didik akan menyadari bahwa yang salah itu tidak baik untuk dikerjakan lagi. Selalu dan tak bosan-bosan memberi pemahaman dan nasihat. Apalagi, jika nasihat dan pemahaman itu disampaikan terus menerus, ditambah keteladanan seorang pendidik, saya kira anak-anak akan berpikir, mulai mengintropeksi diri, perlahan-lahan akan terjadi perubahan dalam diri mereka.

Mengubah karakter anak didik bukanlah mustahil, tapi yang perlu ditekankan adalah proses panjang untuk melakukannya. Untuk itu, urgensi akhlak yang mulia seyogyanya senantiasa ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Bukankah ulama-ulama zaman dulu, dimana kebesaran dirinya selain ilmu yang dimilikinya, juga karena akhlaknya yang mulia? Sampai-sampai mereka mengakui untuk mendidik dirinya dengan akhlak yang mulia mereka menghabiskan masa yang sangat lama daripada menuntut ilmu itu sendiri.

Dalam suatu riwayat, Imam Malik bin Anas, pendiri Madzhab Maliki, menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mempelajari adab, dan empat tahun untuk mencari ilmu. Ini artinya, beliau memposisikan akhlak pada posisi penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Riwayat tentang Imam Malik di atas juga dialami oleh Imam Syafi`i dengan kondisi yang berbeda. Suatu ketika, beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) akhlak?” Dijawab oleh beliau, “Aku mencari adab seperti usaha seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang hilang. Sementara ia tidak mempunyai orang lain selain anak itu.”

Dengan kata lain, kita bisa belajar dari Imam Syafi’i, betapa keras dan sungguhnya beliau memacu diri berhias akhlak. Maka sebagai pendidik, sangatlah tidaklah pantas jika merasa cepat capek, lelah dan putus asa untuk mengarahkan anak didik ke arah yang lebih baik. Karena mengingat pentingnya akhlak yang mulia sebagai bekal anak untuk masa depannya.

Jika menuntut ilmu adalah kewajiban dan bernilai ibadah, sudah sepantasnya nilai-nilai moral juga turut menghiasi para anak didik kita. Nilai-nilai moral ini harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana akhlak mereka dengan orang tua, dengan kiai, guru, sesama temannya dlsb. Karena itulah sebagai seorang pendidik, kita tidak boleh berhenti menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri mereka. Jadilah figur teladan untuk mereka! Dalam ungkapan lain, keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya dan lain sebagainya,

Tegasnya, di hadapan mereka kita harus mencontohkan perilaku-perilaku terpuji. Sebaik-baiknya orang yang mengajak kebaikan adalah yang telah mencontohkannya dengan perbuatan terlebih dahulu sebelum ucapannya.

Waallahu a’lam

Nur Alamsyah

2 thoughts on “Jadilah Figur Teladan untuk Mereka

  1. setuju: “Keteladanan dan etika mulia harus melekat pada seorang pendidik”. tapi banyak orang yang terdidik bahkan mendidik bertindak seperti tidak terdidik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *