Guru

Karena Belajar Adalah Sikap Hidup, Mengajar Adalah Pengabdian

Oleh : Nur Alamsyah

Melangkah masuk ruang kelas, saya lihat wajah-wajah itu. Tampak kusut dan lelah. Sesekali saya lihat buliran keringat tampak menghias wajah mereka. Ruang kelas itu ber-AC memang. Tapi udara siang di musim kemarau rupanya tak terhalau oleh daya kekuatan AC di ruang kelas itu.

Kini saya sudah duduk di kursi. Mata saya nanar menyapu seisi ruangan. Sengaja saya diam sejenak. Mengamati tingkah laku mereka. Ada yang mondar-mandir, lari kesana-kemari, bergurau setengah mati, seolah-olah hidup cuma diciptakan untuk main-main. Tak jarang mereka ngobrol sendiri, seolah-olah kehadiran saya di ruangan itu seperti kawan sepermainannya, tak dihiraukan. Dan, yang tak kalah kacau dari mereka adalah ngantuk!

Suasana centang-perenang ini saya rasakan tiap kali pergantian jam pelajaran. Pada saat-saat inilah saya suka mengamati perilaku mereka. Sibuk sekali mereka. Dan karena tak ingin lama-lama membiarkan mereka sibuk sendiri dengan dunianya, saya pun menegur mereka. Seperti hendak menyusun batu bata, saya pun menertibkannya.

Dunia anak memang unik. Juga kerap merepotkan. Menyelamai dunia mereka saya masih perlu banyak belajar. Maka setelah saya rasa penertiban itu cukup, saya pun menanyakan khabar mereka; tentang kondisi psikis dan fisik mereka sedari pagi. Beragam jawaban muncul: mulai dari bosan, pengen segera pulang, sebagian acuh tak acuh, hingga rasa lelah mulai menjalar tubuh mereka sampai terkantuk-kantuk.

Saya pun mengangguk-angguk mendengar respon mereka. Sesekali terselip senyum di bibir saya. Saya memaklumi adanya. Ini adalah jam yang enak untuk megistirahatkan raga. Tapi, ada yang menimbang-nimbang di pikiran saya: saya tidak bisa memulai pelajaran dalam situasi seperti ini. Saya tak boleh melenakan mereka. Di hadapan murid-murid, sebuah upaya harus saya cipta.

Sudah siap menerima pelajaran saya, tanya saya. Tidak ada respons, hanya satu dua yang menyimak, tapi tak kunjung terdengar jawabnya. Saya pun menerapkan rencana pembelajaran yang kususun semalam. Maka saya hibur otak mereka, saya ajak leha-leha dan nyantai menyimak suguhan yang saya buat sendiri. Sebuah video amatir yang berisi foto-foto lucu dengan diselingi lagu saya putar. Berjalan lima menit, suasana mulai tenang. Mereka menyimak, larut dalam suguhan yang saya berikan.

Sepuluh menit telah lewat. Saya matikan tontonan itu. Saya harus mulai pelajaran. Tapi apa yang terjadi? Sebagian dari mereka kepalanya beringsut disandarkan di atas meja dengan tangan sebagai bantal. Ya benar, ngantuk! Sebagian mulai tak konsentrasi, rame sendiri. Mereka kembali pada situasi semula, meski tak sekacau sebelumnya.

Intonasi suara saya tinggikan. Dengan getar sana-sini. Saya pun mulai menyampaikan materi. Tapi suasana itu terus menggangguku.  Saya tenangkan lagi yang rame. Yang tidur saya bangunkan. Suasana ini terus saya lakukan sampai mereka benar-benar tertib. Tapi apa daya. Ini cuma berjalan sesaat. Lagi-lagi hanya bertahan sekian menit. Mereka kembali ngantuk. Tak konsentrasi. Rame. Situasinya tambah tak keruan…

****

Menghadapi anak-anak seusia mereka memang butuh kesabaran super. Tak boleh pasrah dan menyerah. Ketegasan memang perlu. Menghukum juga perlu. Menasihati apalagi… Keragaman yang unik pada anak didik betul-betul saya apresiasi. Inilah tantangan saya.

Pendidikan memang bukan sekedar urusan menjadikan anak pintar, tapi juga mampu menjadikan anak memahami tanggungjawabnya, bergaul dengan sejajar, dan bijak menghadapi masalah. Pendidikan bukan cuma perkara matematis-mekanistik, tapi mengandung nilai emosi dan estetik.

Maka tiap kali hendak melangkah ke ruang kelas itu, saya terus mengupayakan format dan formula pembelajaran yang baik. Saya ingin tercipta suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Saya masih perlu belajar. Karena belajar adalah sikap hidup, mengajar adalah pengabdian. Sekarang dan nanti, ini prinsip yang harus kupegang erat-erat.

2 thoughts on “Karena Belajar Adalah Sikap Hidup, Mengajar Adalah Pengabdian

  1. keren abiez tad!
    ana sebagai siswa minta maaf ika itu pernah terjadi dan membuat ustad sakit OK!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *