BeritaBerita SMPSiswa

LITERASI MANIS HARI KAMIS

Siapa yang tak mengenal budaya literasi. Kegiatan yang didasarkan dari keinginan mencari tahu informasi dan pengetahuan itu dapat mengasah kemampuan baca seseorang. Budaya literasi itu pantas diterapkan pada setiap orang terutama anak-anak didik di dunia pendidikan.

Selama ini literasi telah dikembangkan dan dibiasakan oleh lembaga sekolah kepada anak didiknya baik pada tingkat SD, SMP, maupun SMA. Jika ditelurusi, budaya literasi cocok dengan budaya belajar abad 21, sebab informasi terbaru telah begitu cepat  menyebar di seluruh penjuru kehidupan yang mengakibatkan seseorang terbiasa menerima informasi-informasi terkini.

Sejalan dengan hal tersebut, murid-murid sekolah progresif mulai menerapkan budaya literasi dalam mengisi proses belajar mengajar pada lingkup sekolah. Terutama saat pembelajaran mata pelajaran bahasa indonesia tingkat SMP. Siswa-siswa kelas 7 dan 8 telah dikenalkan budaya literasi yang terintegrasi dalam pembelajaran yang ditempuh setiap pertemuan belajar dengan guru bahasa indonesia. Siswa-siswa tersebut berasal dari kelas putra Al Asyari, Asy Syafii, Al Idrisi dan kelas putri yang terdiri atas Omar Khayyam, Abul Casis, dan Al Gebra.

Salah satunya kelas Al Idrisi yang menerima pelajaran bahasa indonesia saat diajar oleh salah satu ustadzah
pengajar ikut merasakan budaya literasi. Sebab, guru pengajar tersebut menerapkan kegiatan literasi setiap hari kamis. Sehingga siswa-siswa kelas Al Idrisi yang merupakan siswa kelas 7 putra di SMP Progresif Bumi Shalawat harus membuat laporan literasi yang dibuat dari hasil membaca koran, majalah, ataupun sumber internet. Bahan literasi sangat beragam, mereka mendapatkan berbagai jenis berita seperti berita pendidikan, politik, ekonomi, budaya, dan olah raga yang dapat dibuat sebagai laporan literasi setiap minggunya. Tidak terkecuali kadang berita internasional juga diangkat dalam tema laporan literasi yang mereka kumpulkan kepada guru bahasa indonesia. Hal tersebut sangat baik, sebab tidak hanya berita regional dan nasional saja yang mereka ketahui, tetapi berita internasional juga akan sampai pada telinga mereka dan ingatan mereka.

Kegiatan tersebut sangatlah mendukung kegiatan belajar mengajar bahasa indonesia, sebab budaya literasi yang disebut membaca dan menulis itu dapat terintegrasikan pada ranah keterampilan membaca dan menulis dalam pembelajaran bahasa indonesia.

“Dzah, gunanya apa literasi itu, kok kami selalu ngumpulin setiap hari kamis?”, tanya salah satu siswa putra saat hari kamis tiba. Salah satu temannya menjawab, “Literasi itu supaya membuat kita tahu informasi di luar sana, dan kita akan kaya dengan pengetahuan terbaru dan terhangat, nggak kudet”. Literasi yang rutin dilakukan sejak semester satu dan dilanjutkan ke semester dua tersebut dapat mengasah kemampuan daya kritis siswa dalam rasa keingintahuan terhadap berita, informasi, dan pengetahuan terbaru selain di sekolah. Tidak hanya cakap yang didapatkan, tetapi ketajaman berpikir mereka dalam memahami dinamika kehidupan juga akan terlatih.

Memang literasi harusnya didukung penuh oleh stakeholder di lingkungan pendidikan, sebab hal tersebut termasuk salah satu upaya mengentaskan anak bangsa dari kebodohan dan ketertinggalan.

 

—IswaraIndah—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *