Guru

MENGAJAR  ADALAH  THARIQAT

IMG_Foto DiriDr. M. Mudlofar Basuni, M.Pd.

(Pengasuh SMA Progresif Bumi Shalawat)

(Bagian 1)

 Ada empat istilah yang popular dalam agama Islam, yaitu syariat, thariqat, hakikat, dan makrifat. Syariat adalah pedoman kehidupan yang berasal dari Allah dan Rasulullah saw. berupa seperangkat peraturan tentang amaliah manusia berdasarkan Al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw. Thariqat adalah petunjuk perlakuan ibadah tertentu sesuai dengan ajaran yang diteladankan oleh Rasulullah swa., dilajutkan oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin secara berkesinambungan hingga para ulama dan guru-guru tasawuf. Hakikat adalah sampainya seorang sufi menempuh jalan spiritual pada tujuannya, demikian pendapat Zainuddin bin Ali al Ma’bari al Malaybari. Sementara itu, dalam al Risalatu al Qusyairiyyah disebutkan bahwa ma’rifat adalah keberadaan seorang hamba dalam uniomistica bersama sifat kebesaran Allah swt.

Empat istilah tersebut, setelah memahami batasan-batasannya, tampak bahwa keempatnya merupakan eksistensi kualitas diri dalam keimanan dan spiritual seseorang dalam fungsinya sebagai hamba Allah. Pencapaiannya seyogyanya secara gradual. Tak dapat seseorang meloncat dan mengaku ma’rifat sebelum ia mencapai hakikat, apalagi bila syariat pun tak sepenuhnya dipahami dan dilaksanakan. Sekali lagi, syariat, thariqat, hakikat, dan makrifat adalah tahap-tahap pendakian kualitas spiritual seorang abdi ilahi.

Menarik untuk dipahami, pada bahasan ini, ialah istilah thariqat. Thariqat berawal dari kata asal “thariqatun” yang dapat berarti melawati suatu jalan. Makna etimologis ini, memberikan pemahaman bahwa tharikat merupakan “jalan” bagi seseorang untuk mencapai suatu tujuan (memperoleh kedekatan pada Allah). Lazimnya sebuah perjalanan maka tentu pejalan (thariq) tidak hanya terbatas melewati satu “jalan”. Seorang pejalan, bebas menentukan jalan yang ditempuhnya asal, jalan itu pada gilirannya akan sampai pada tujuan. Apakah jalan itu terjal, mendaki, mulus, beraspal, berubin, berpaving, berkerikil, ataukah becek dan berair merupakan pilihan yang tak dapat seseorang memaksa untuk melewatinya. Semuanya bergantung pada pejalan dalam menetukan pilihan yang terbaik dan tercepat untuk mencapai tujuan. Karena itu, bentuk-bentuk tharikat, dalam sejarahnya, terus mengalami perkembangan dan variasi amaliyah yang terkadang sulit dimengerti oleh orang lain yang tidak “masuk” ke dalamnya.

Yang popular di tanah air ini adalah Thariqat Qadiriah, Thariqat Naqsabandiyah, gabungan keduanya (Thariqat Qadiriyah-Naqsabandiyah), Thariqat Rifaiyah, dan Thariqat Syadliliyah. Aktivitas beberapa thariqat tersebut berupa amaliyah wirid atau dzikir yang diyakininya akan dapat menuntun seseorang untuk sampai (wusul) pada Allah taala. Wirid atau dzikir itu berupa bacaan-bacaan, kata-kata, kalimat-kalimat yang baik (asma-asma Allah) yang dipilih secara khusus dengan muatan makna yang padat dan hidmat. Rajutan pilihan kata dan kalimat itu dibaca berulang-ulang sesuai dengan hitungan yang disepakati berdasarkan petunjuk pimpinan tharekat (mursyid). Begitu seterusnya, amaliyah tharekat ini dilakukan, dan  bagi pengamalnya akan diperoleh kenikmatan batin sebab telah menyatukan dirinya dalam asma-asma Allah.

Melihat model amaliyah tharekat seperti terurai di atas, muncul asumsi umum bahwa tharekat beraktivitas hanya dalam amaliyah wirid dan dzikir. Dengan kata lain, kebanyakan orang mengira bahwa hanya wirid dan dzikir yang berupa kata-kata dan kalimat-kalimat (berbahasa Arab) yang dibaca berulang-ulang itulah eksistensi tharekat. Mungkin asumsi dan perkiraan umum itu dapat benar, tetapi bila menganggap bahwa tharekat hanya berupa wirid dan dzikir kata-kata saja, itu yang tidak benar.

Ada satu lagi, yang juga patut disebut tharekat yaitu mengajar (Tharekat Tarbiyah). Banyak kalangan ulama yang menyebutkan bahwa mengajar juga merupakan thareqat. Sebab, mengajar juga merupakan jalan (thariqat) bagi seseorang untuk mencapai tujuan dekat kepada Allah taala. Bahkan mereka berani menyatakan bahwa mengajar adalah satu-satunya tharekat yang memiliki kekuatan dan keutamaan nilai yang paling unggul dibanding tharekat-tharekat lainnya. Alasannya? Pertama, tharekat mengajar harus diulang-ulang tidak hanya dalam suatu majlis kala duduk, tetapi diulang sepanjang zaman (long life edication). Kedua, tharekat mengajar berhubungan dengan orang lain (murid, siswa) sehingga lebih problematis dan dilematis. Ketiga, tharekat mengajar tidak hanya butuh persiapan batiniah tetapi juga menuntut kesiapan lahiriyah (perangkat pembelajaran). Keempat, tharekat mengajar lebih sensitif godaan duniawi (ada yang dibayar banyak, ada yang dibayar sedikit, dan ada yang tidak dibayar sama sekali). Kelima, tharekat mengajar lebih mudah kehilangan nilai sebab cenderung berhadapan dengan gangguan orang lain (hasud, dengki, dan sejenisnya). Padahal, menjalankan tharekat adalah persoalan olah hati! (mudlof).

Bagaimana tanggapan Anda?

One thought on “MENGAJAR  ADALAH  THARIQAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *