Menjadi Santri Progresif (1); Memahami Fiqih Niat

Ustad AriaOleh : H. Aria Muchammad Ali, Lc

Hasil dari sebuah pekerjaan sangat ditentukan kuat dan lemahnya niat seseorang, niat adalah ruh bagi sebuah amal, baik dan buruk sebuah amal mengikuti baik dan buruknya niat, karenanya Rasulullah saw bersabda :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sungguh amal amal itu tergantung niatnya, dan bagi setiap orang apa yang telah niatkan.

Dari sabda rasul ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya yang pertama kali harus kita perbaiki dalam hidup adalah niat, manakala niat kita sudah baik dan benar maka baik dan benar pulalah tujuan amal yang kita lakukan, begitu juga sebaliknya bila niat kita sudah keliru dan melenceng maka bisa dipastikan tujuan dari amal kita sudah tidak benar.

Niat merupakan pembeda amal duniawi dan ukhrawi
Berapa banyak amalan yang tampak seperti amalan duniawi pada hakikatnya amalan tersebut bernilai ukhrawi begitu juga sebaliknya berapa banyak amalan yang seakan akan bernilai ukrawi justru pada hakikatnya merupakan sebuah amal duniawi bahkan bernilai dosa.

Dalam hal ini rasul saw bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Kelak di hari kiamat yang pertama kali disidangkan adalah orang yang mati syahid kemudian orang tersebut ditunjukkan kepadanya nikmat nikmat Allah kemudian orang tersebut mengakuinya kemudian ditanyakan padanya apa yang kamu kamu lakukan dengan nikmat tersebut maka orang tersebut menjawab : aku gunakan untuk berjihad di jalanmu sampai aku mati syahid, maka dikatakan padanya kamu telah berbohong sesungguhnya kamu melakukan itu semua supaya kamu dikatakan sebagai orang yang pemberani dan itu telah kau dapatkan di dunia kemudian orang tersebut dimasukkan ke neraka.

Orang kedua yang disidang kelak pada hari kiamat adalah orang berilmu dan pandai membaca al quran kemudian orang tersebut ditunjukkan kepadanya nikmat nikmat Allah kemudian orang tersebut mengakuinya kemudian ditanyakan padanya apa yang kamu kamu lakukan dengan nikmat tersebut maka orang tersebut menjawab: aku gunakan belajar dan mengajar ilmu dan membaca al quran semata mata untukmu wahai tuhanku maka dikatakan padanya kamu telah berbohong sesungguhnya kamu melakukan itu semua supaya kamu dikatakan sebagai orang yang alim dan ahli membaca al quran dan itu sudah kamu dapatkan di dunia kemudian orang tersebut dimasukkan ke neraka.

Orang ketiga yang kelak disidangkan di hari kiamat adalah orang kaya yang gemar bersedekah kemudian orang tersebut ditunjukkan kepadanya nikmat nikmat Allah kemudian orang tersebut mengakuinya kemudian ditanyakan padanya apa yang kamu kamu lakukan dengan nikmat tersebut maka orang tersebut menjawab: aku gunakan untuk berinfaq di jalanmu wahai tuhanku maka dikatakan padanya kamu telah berbohong sesungguhnya kamu melakukan itu semua supaya kamu dikatakan sebagai orang yang dermawan dan itu telah kau dapatkan di dunia kemudian orang tersebut dimasukkan ke neraka.

Hadits ini merupakan warning bagi kita semua bahwa sebuah niat sangatlah berpengaruh akan diterima atau ditolaknya amalan kita. Bayangkan orang yang mati berjihad dijalan Allah, Orang Alim ahli al quran yang belajar dan mengajar agama, orang kaya yang gemar bersedekahpun bila salah niat bukan pahala yang mereka dapat malah diganjar dengan dosa dan neraka.

Di sisi lain Niat bisa merubah amalan sehari hari yang mubah bernilai pahala. makan, tidur, istirahat, bercengkerama dengan keluarga dapat bernilai pahala bila berangkat dengan niat yang baik.

Namun perlu juga untuk diketahui bahwa baiknya niat tidak akan bisa merubah suatu yang haram. Pencuri yang berniat untuk mensedekahkan curiannya tidaklah bisa merubah haramnya pencurian. Banyak dari kita yang tertipu pada baiknya niat untuk melakukan hal hal yang diharamkan oleh agama, hal tersebut merupakan tipu daya setan yang selalu berupaya menyesatkan manusia.

 

Niat lebih utama daripada amal

قال يحيى بن أبي كثير : تعلموا النية فإنها أبلغ من العمل.

Yahya bin abi katsir berkata: Belajarlah menata niat karena niat ablagh (lebih kuat dan utama guna mencapai tujuan) daripada sebuah amal.

Dawuh dari salah satu ulama besar ini memahamkan kita bahwa untuk mencapai sebuah tujuan niat lebih bisa kita andalkan daripada sebuah amal, keterbatasan keterbatasan kita oleh waktu, tempat, kemampuan jasmani dan harta benda dalam mengerjakan amal akan bisa kita hilangkan dengan menata niat dengan baik, tulus dan ikhlas.

Dalam beramal manusia akan selalu menghadapi rintangan keterbatasan, oleh karenanya solusi cerdas yang sudah diajarkan oleh ulama salaf apabila sesuatu amal belum atau tidak bisa kita kerjakan maka tanamkan niat yang kuat untuk pada suatu saat kita kerjakan niscaya niat tersebut telah dicatat sebagai amal yang diterima walaupun Allah belum menakdirkan kita untuk mengerjakannya.

Rasulullah saw bersabda

من سأل الله الشهادة بصدق بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه

Barangsiapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan niatan yang kuat, Allah akan mengangkat derajatnya seperti derajat para syuhada’ walaupun ia mati diatas kasur.

Saat sebagian sahabat tidak bisa ikut perang tabuk karena udzur rasulullah saw bersabda:

قد تركتم بالمدينة أقواما ما سرتم مسيرا ولا أنفقتم من نفقة، ولا قطعتم من واد إلا وهم معكم فيه، قالوا: يا رسول الله كيف يكونون معنا وهم بالمدينة؟ فقال :حبسهم العذر.

Kalian telah meninggalakan di madinah suatu kaum yang tidak menempuh perjalanan yang kalian tempu mereka juga tidak menginfaqkan harta seperti apa yang kalian infaqkan mereka tidak juga menuruni lembah lembah seperti kalian, namun mereka selalu ada bersama kalian. Sahabat bertanya: bagaimana mereka bisa besama kita wahai rasulullah sedangkan mereka ada di madinah ? rasul menjawab: sesungguhnya udzur telah menghalangi mereka.

Dari sabda rasul ini dapat kita ambil pelajaran bahwa niat kuat dari para sahabat untuk berjihad di tabuk dicatat seperti amalnya tidak dikurangi sedikitpun, udzurlah yang menghalagi keinginan mereka untuk berjihad namun udzur sama sekali tidak bisa menghalangi niat niat mereka.

Bila seorang dari kita sakit sehingga tidak bisa belajar atau mengajar di sekolah maka apabila di hati kita ada niat yang jujur sesungguhnya pahala belajar dan mengajar tetap kita dapatkan karena niat tidak dapat dibatasi sebuah halangan.

Niat baik akan menjemput pertolongan Allah
Suatu ketika umar bin abdul aziz berkirim surat kepada salim bin abdullah bin umar seorang tabiin yang luas ilmunya, dalam suratnya dia menulis: Hal apakah yang bisa menjemput pertolongan Allah wahai salim? maka salim menjawabnya “ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah pada hambanya tergantung niatnya bila niatnya sempurna maka sempurna pulalah pertolongan Allah untuknya, bila niatnya kurang sempurna maka berkurang pula pertolongan Allah untuknya.

Pertanyaan yang mungkin bergelanyut di benak kita bagaimana suatu niat yang baik bisa menjeput pertolongan Allah, jawabnya karena lapangan niat adalah hati sedang lapangan amal adalah badan jasmani, hati adalah tempat penglihatan Allah, hati adalah ukuran baik dan buruknya seseorang, hati adalah raja seluruh anggota badan. Tidak heran bila niat hati seseorang sudah mantab merasuk ke relung sanubari maka disitu ada tangan Allah yang mengatur dan memudahkan segala urusannya dalam hadits qudsi disebutkan bahwa “kehendak Allah bergantung prasangka hambanya” maka santri yang cerdas akan selalu memperbaiki niatnya karena siapa saja yang mau dan mampu menyempurnakan niat yang baik maka sempurna pula pertolongan untuknya.

Dalam hal ini sayidina umar bin al khattab berkata: barangsiapa yang niatnya murni karena Allah, Allah akan mencukupi dan menjadi pembelanya di kalangan manusia.

Syekh muhammad mutawali as sya’rawi pernah berbagi resep kesuksesannya dalam berdakwah: “Apabila Allah telah mengilhamkan pada seseorang niat yang ikhlas maka Allah akan membukakan untuknya seluruh pintu kebaikan”.

Niat baik dengan amal yang sedikit lebih baik daripada amal yang banyak dengan buruknya niat
Orang beramal pasti bertujuan supaya amalnya diterima supaya mendapatkan ridlo Allah swt oleh karena para ulama salaf lebih menyukai amalan sedikit dengan niat baik yang kuat dan banyak daripada banyak amal tetapi niatnya masih bercampur dengan keinginan keinginan yang kurang baik, mereka mempunyai prinsip berapa banyak amalan kecil dan sedikit menjadi besar dan banyak karena pelakunya pandai menata niat dan berapa banyak amalan yang dianggap banyak tetapi karena niatnya kurang diperhatikan maka amal tersebut menjadi kurang berarti artinya bila niat seseorang sudah murni karena Allah maka walaupun amalnya sedikit disisi Allah dianggap besar.

Satu amal dengan banyak niat.
Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menata niatnya, dengan pandai menata niat umur kita yang sangat terbatas dapat menjadi lebih bernilai dan berharga, seorang yang masuk masjid dan berniat untuk shalat dluha dua rakaat saja akan mendapat pahala shalat dluha itu saja, namun apabila ia masuk masjid dengan niatan i’tikaf dan berniat dengan shalat dua rakaat shalatnya shalat dluha, tahiyat masjid, sunah wudlu, taubah, hajat dan istikharah maka dua rakaat tersebut berkat niat yang banyak akan diganjar dengan shalat shalat yang sudah diniatkan, orang yang menikah dengan niatan menjaga pandangan dan kemaluan akan mendapatkan pahala itu saja namun apabila dalam menikah dia berniat dengan banyak hal hal yang bernilai pahala maka dia juga akan mendapatkan keseluruhannya misalnya berniat dengan menikah memperbanyak keturunan yang shalih, melaksanakan sunah rasul, membangun rumah tangga yang islami, mempererat silahtuhrahmi dengan keluarga lain dengan adanya pernikahan, dll.

Baiknya niat tidak bisa merubah sesuatu yang haram menjadi halal
Niat yang baik memang bisa membuat sesuatu yang mubah (boleh) menjadi ladang pahala, makan,tidur,bercengkerama dengan keluarga dapat menjadi hal yang bernilai pahala apabila diniati dengan niat yang baik, namun baiknya niat tidak bisa merubah sesuatu yang haram menjadi halal, seorang yang merampok harta orang lain dengan niat untuk disedekahkan kepada kaum fakir miskin tetap tidak bisa merubah hukum haramnya merampok oleh karena itu kita harus memahami bahwa niat yang baik harus selaras dengan baiknya perbuatan atau minimal bolehnya suatu perbuatan dengan mengacu pada rambu-rambu syariat.

Tutupi keterbatasan kita dengan baiknya niat.
Setiap orang pasti mempunyai kekurangan, setiap orang pasti memiliki keterbatasan maka langkah cerdas untuk menutupi kekurangan dan keterbatasan tersebut dengan belajar membiasakan diri berniat baik dalam setiap keadaan, mari kita renungkan sabda rasulullah saw berikut ini , supaya kita bisa menjadi pribadi yang pandai dan cerdas menata niat.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالا وعلما فهو يتقي فيه ربه، ويصل فيه رحمه ويعلم لله فيه حقا فهذا بأفضل المنازل، وعبد رزقه الله علما ولم يرزقه مالا فهو صادق النية يقول: لو أن لي مالا لعملت فيه بعمل فلان فهو بنيته فأجرهما سواء، وعبد رزقه الله مالا ولم يرزقه علما فهو يخبط في ماله بغير علم، لا يتقي فيه ربه ولا يصل فيه رحمه، ولا يعلم لله فيه حقا فهو بأخبث المنازل، وعبد لم يرزقه الله مالا ولا علما، فهو يقول: لو أن لي مالا لعملت فيه بعمل فلان، فهو بنيته، فوزرهما سواء.

Rasulullah saw bersabda : sesungguhnya di dunia ini ada empat macam orang :

  • Hamba yang diberikan Allah untuknya harta dan ilmu dengan harta dan ilmunya itu dia bertakwa kepada Allah, menyambung tali kekerabatan, dan tahu hak hak Allah atasnya, orang ini adalah orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah.
  • Hamba yang diberikan Allah untuknya ilmu namun tidak diberikan kepadanya harta akan tetapi mempunyai niat yang baik yang tulus, dia berkata: seandainya aku mempunyai harta maka aku akan mengerjakan apa yang yang dikerjakan oleh si fulan, maka niat orang tersebut dan amal orang yang ingin ditirunya sama pahalanya.
  • Hamba yang diberikan Allah untuknya harta akan tetapi tidak diberikan untuknya ilmu sehingga hartanya digunakan sembarangan tanpa ilmu, dia tidak bertakwa kepada tuhannya dan tidak menyambung tali kekerabatan dan tidak tahu hak hak Allah atasnya, maka orang ini paling rendah derajatnya disisi Allah swt.
  • Hamba yang tidak diberikan Allah untuknya harta dan ilmu , dia berkata: seandainya aku mempunyai harta maka aku akan mengerjakan apa yang yang dikerjakan oleh si fulan, maka niat orang tersebut dan amal orang yang ingin ditirunya sama pahala dan dosanya.

Semoga kita dijadikan orang yang cerdas menata niat di semua aspek kehidupan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *