MENJADI SANTRI PROGRESIF (2); Santri dengan Uluw al-Himmah (Semangat yang Kuat)

Ustad AriaOleh : H. Aria Muchammad Ali, Lc

Santri progresif adalah santri yang meneladani Rasulullah saw. Rasul adalah sosok yang penuh semangat dalam segala aspek kehidupannya. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw. kita tidak pernah mendapati beliau patah semangat, apalagi berputus asa. Bahkan beliau dapat membentuk generasi yang dengan semangatnya bisa menaklukan dua imperium besar saat itu, yaitu Persia dan Romawi. Generasi hasil didikan Rasulullah saw. adalah para sahabatnya. Mereka adalah generasi qur’ani yang keluar dari Madrasah Nabawiyah di masjidnya yang sederhana. Bila kita membaca sejarah orang-orang yang sukses dari salaf umat ini, maka rahasia kesuksesan mereka adalah semangat yang kuat, pantang menyerah, ulet dan tahan banting. Dalam hal ini Allah swt. Memberikan predikat orang-orang yang memiliki uluw al-himmah (semangat yang kuat) dengan istilah as-sabiqun. Allah swt. Berfirman :

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠ (أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١)

dan orang-orang yang paling dahulu (beriman dan beramal shaleh). mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). (QS al-Waqiah 10-11)

Ayat ini memberikan penjelasan bahwasanya tingkatan yang paling dekat dengan Allah adalah tingkatan al-sabiqun. Dia lebih tinggi dibandingkan tingkatan ashab al-yamin, apalagi ashab al-syimal. Gelar al-muqarabun merupakan pangkat tertinggi seorang hamba kepada Tuhannya. Predikat al-muqarabun lebih tinggi dari predikat al-mutaqaribun. yang pertama adalah orang-orang yang dikehendaki Allah dekat dengan-Nya. sedangkan yang kedua adalah orang-orang yang berusaha mendekat kepada Allah.

Sesungguhnya bagi setiap manusia ada dua kekuatan besar yang dengannya dia bisa meraih predikat as-sabiqun. Yang pertama adalah kekuatan ilmu. Yang kedua adalah kekuatan semangat. Ilmu bersifat teoristis. Sedangkan semangat lebih bersifat aplikatif. Dengan kesempurnaan kekuatan ilmu seseorang bisa mengetahui siapa penciptanya. Bagaimana jalan menuju kepada-Nya. Dengan ilmu pula dia tahu kelemahan-kelamahan dirinya. Apa saja kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Sehingga orang yang paling berilmu adalah orang yang paling tahu Tuhannya dan paling mengerti kelemahan dirinya. Sedang, dengan kekuatan semangat yang sempurna, dia akan bisa menjaga hak-hak Tuhannya. Menyembahnya dengan ikhlas, tulus, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan malu dengan setiap amalan yang tidak diridhoi oleh Tuhannya. Dengan semangat itu seorang hamba akan dapat istiqomah menjalankan segala perintah-perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Keduanya harus selaras dan berjalan beriringan, ilmu yang banyak tanpa diimbangi semangat yang kuat hanya berujung pada teori di atas kertas saja, sedang semangat tanpa ilmu akan berujung pada kesesatan dalam beramal.

Semangat adalah pembeda antara orang-orang yang sukses dan tidak sukses. Maka sampai dimana semangat seseorang, di situ pula kesuksesan yang dia raih. Pada zaman Rasulullah saw. ada dua orang yang diberikan kemuliaan bertatap muka langsung dengan Rasulullah saw. yang pertama seorang a’rabi datang kepada Rasulullah saw. hanya untuk meminta segenggam gandum. A’rabi itu berkata: “wahai Muhammad, berikan kepadaku segenggam gandum dari harta Allah. Sesungguhnya itu bukan hartamu dan bukan pula harta bapakmu.”. inilah gambaran semangat seorang a’rabi yang hanya terbatas pada segenggam gandum. Yang kedua semangat dari sahabat Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami. Dia berkata: “Aku pernah menginap bersama Rasulullah saw. maka aku melayaninya dengan mengambil air wudhu dan keperluan-keperluannya”.maka Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Wahai Rabi’ah, mintalah” maka aku berkata “Aku meminta kepadamu untuk bisa bersamamu di surga”. Rasul berkata: ”Tidakah kau meminta selain itu?”. Maka aku berkata:”Tidak, aku hanya minta itu”. Maka Rasul saw. bersabda:”Maka bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak bersujud” (H.R Muslim). Dua orang yang mempunyai kesempatan yang sama bertatap muka dengan sebaik-baik makhluk, yaitu baginda Muhammad saw. yang pertama hanya meminta segenggam gandum. Sedang yang kedua dengan cerdas meminta dikumpulkan bersama Rasulullah saw di surga. Lihatlah bagaimana semangat membedakan kesuksesan seseorang. Walaupun kesempatan yang diberikan kepada keduanya sama.

Semangat adalah keinginan yang tidak terbantahkan, tidak bisa ditahan dan tidak mungkin berpaling darinya. Ketika para Shalihin mendengar firman Allah :

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَٱسْتَبِقُواْ ٱلْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعاً إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah : 148).

Mereka memahami ayat ini bahwa hendaknya mereka bersaing, berlomba-lomba untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah dengan semangat membara yang tak kunjung padam. Sampai-sampai Muhammad bin Sirin setiap hari masuk ke pasar beberapa waktu. Ketika ditanya mengapa engkau masuk ke pasar sedangkan kau tidak berdagang? Maka beliau menjawab: Sesungguhnya aku masuk ke pasar untuk berdzikir kepada Allah dengam bertakbir dan bertasbih kepada Allah. Karena pada tempat itulah banyak orang yang lalai kepada Allah. Diantara mereka ada yang 40 tahun shalat shubuhnya dengan wudhu isya’. Diantara mereka ada yang berhaji 99 kali seumur hidupnya dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya di pelosok Yaman. Diantara mereka, ada yang ketika dikumandangkan adzan, hatinya bergemuruh laksana sebuah wajan yang dipanaskan. Bagaimana tidak? Mereka adalah orang-orang yang meneladani semangat Rasulullah saw. seorang hamba yang dosanya diampuni apa yang telah lalu dan apa yang akan datang. Tetapi masih saja shalat malam dengan kaki yang bengkak karena lamanya berdiri. Kita yang mengaku pengikut Muhammad seharusnya malu pada diri kita sendiri. Semangat kita tidak ada sepersepuluh dari mereka.

Semangat adalah Kendaraan Menuju Allah.
Semangat yang tinggi adalah kendaraan bagi perjalanan kita menuju sang Maha Tinggi, Semangat yang mulia adalah penghambaan hakiki kita kepada yang Maha Mulia. Allah swt berfirman pada surat an-Najm ayat 42 :

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢(

“dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu)”(QS an-Najm 42)

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwasanya semua semangat yang kita curahkan untuk Allah akan abadi. namun apabila semangat kita bukan untuk Allah akan sirna dan hilang tanpa bekas. Maka makna semangat yang tinggi bagi para shalihin adalah semangat untuk mencapai kemurnian tauhid dan kesucian jiwa. Sebab hati mereka tidak akan mengenyam ketenangan dan ketentraman sebelum sampai ke hadirat penguasa segalanya. dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa santri progresif adalah santri yang mempunyai semangat yang tinggi cita-cita yang besar, keinginan yang luhur dengan mengerahkan seluruh kemampuan, bakat dan potensinya. Untuk menjadi manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) dengan melakukan perjalanan spiritual menuju Allah. Penting kita yakini bila Allah telah menjadi pusat dari munculnya semangat kita maka itu merupakan pertanda bahwa kita termasuk orang orang yang dikehendaki baik oleh Allah swt.

Semangat adalah Harapan
Siapa saja yang mempunyai harapan pasti mempunyai semangat. Bila harapan kita kuat maka kuat pula semangat itu. Bila harapan kita lemah maka lemah pula semangat itu. Al-Jahidz pernah memberikan gambaran yang indah tentang sebuah semangat. Dia berkata: dengan semangat seorang akan menganggap semua cobaan, rintangan, masalah masalah besar menjadi kecil sebelum mencapai tujuannya. Namun bila semangat lemah maka sesuatu yang bukan masalah akan menjadi masalah.sesuatu yang mudah akan menjadi sulit. Sesuatu yang gampang akan menjadi ruwet. Karena semangatlah kita bisa bertahan hidup. Bila kita tidak punya semangat maka hakikatnya kita adalah orang yang mati.

Orang-orang yang mempunyai semangat yang tinggi akan bisa merubah dunia. Lihatlah Sultan Muhammad al-Fatih yang membuat sabda rasul menjadi nyata setelah lebih dari 800 tahun disabdakan rasul yang mulia tentang jatuhnya konstantinopel ke tangan umat muslim. Menjalankan kapal-kapal besar di atas daratan. Merobohkan tembok konstantinopel yang kokoh. Itu semua karena dia mempunyai senjata yang tidak tertandingi, yaitu semangat yang kuat.

Harapan inilah yang bisa membangunkan umat islam dari tidur panjang mereka, Shalahudin al ayubi mengembalikan kejayaan islam dengan kembali menggugah semangat mereka beliau ialah seorang sultan sekaligus ahli strategi perang dengan semangat yang kuat beliau juga sebagai pelopor berdirinya peringatan Maulid Nabi SAW pertama kalinya (580 H/1184 M). dimana pada waktu perang salib terjadi beliau membangkitkan semangat juang kaum muslimin yang pada waktu itu terpecah menjadi 2 golongan besar. yakni golongan sunni dan syiah, dengan cerdik Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin pada tahun 1187M. Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian pasukan salib tahun 1099, Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Maka kesuksesan salahudin inipun dimulai juga dari semangat yang kuat.

Semangat adalah Bahan Bakar Kehidupan
Manusia ibarat mobil hanya bisa berjalan dengan bahan bakar tanpa bahan bakar mobil hanya besi yang tak bisa bergerak, dengan semangat manusia akan hidup, dengan semangat manusia akan mampu merubah nasibnya, dengan semangat manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya karena manusia yang hidup tanpa semangat pada hakikatnya adalah mayat berjalan.

Para ulama membagi semangat pada jiwa manusia pada empat tingkatan:
pertama, seseorang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, kemudian bersemangat untuk melakukan usaha yang luar biasa guna mencapai hal-hal yang luar biasa. Inilah orang yang mempunyai uluw al-himmah (semangat yang kuat) Semoga kita dijadikan golongan yang pertama ini.
kedua, orang yang sebetulnya mempunyai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Tetapi dia bermalas-malasan dan tidak melakukan usaha yang luar biasa. inilah orang yang bersemangat rendah (tidak punya semangat)
ketiga, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, dan dia tahu dengan kelemahannya itu. Maka orang ini adalah orang yang tahu diri.
keempat, orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, namun dia merasa bisa melakukannya. Maka orang ini adalah orang yang tidak tahu diri atau sombong.

Hal-hal yang Menyebabkan Melemahnya Semangat

pertama, berkumpul dengan para pemalas. semangat bisa layu, manakala kita tidak cerdas meletakkannya. Ibarat tumbuhan, maka tumbuhan yang ditanam di tempat yang tidak subur, akan tumbuh kurang baik, walaupun benih dan bibit pohonnya kualitas unggul. Sebaliknya bila kita menanam tanaman itu di tempat yang subur. Maka dia akan tumbuh baik. Bisa memberikan manfaat kepada yang lain. Allah swt berfirman:

وَٱلْبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذْنِ رَبِّهِۦ ۖ وَٱلَّذِى خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS al-A’raf 58)

Tegasnya. Berteman dengan pemalas akan mematikan semangat kita. Ibnu Athaillah pun berkata: “Jangan bersahabat dengan orang yang ahwal(kondisi)nya tidak membangkitkan semangatmu dan perkataannya tidak mengantarmu kepada Allah.”

Kedua, tidak mempunyai guru yang bisa membimbingnya menuju Allah. Teladan seorang guru adalah faktor terpenting bagi perkembangan semangat seorang murid. sosok yang bisa memberikan teladan adalah obat mujarab bagi lemahnya semangat sang murid. Sahabat-sahabat Rasulullah saw. bisa mempunyai semangat yang luar biasa kuat. Karena mempunyai teladan yang paripurna Muhammad saw. lihatlah Mbah Kholil bangkalan, Murid-muridnya menjadi singa-singa Allah di tengah masyarakat. Lihatlah mbah Hasyim Asyari, santri-santri yang digemblengnya telah menjadi pelita bagi masyarakat di sekelilingnya. Oleh karenanya untuk menjadi santri yang progresif. Harus cerdas memilih guru spiritual, baik yang masih hidup maupun yang sudah berpindah ke alam barzah dengan jalan membaca sejarah mereka. Sehingga timbulah semangat untuk meneladani mereka. Oleh karena itu para ulama mengabadikan biografi ulama-ulama terdahulu karena dengan membaca biografi mereka kita dapat membangkitkan semangat yang telah loyo.

Ketiga, pikiran yang negatif. Orang yang di otaknya selalu berpikir negatif tidak mungkin mempunyai semangat yang kuat. Otaknya dipenuhi ketakutan, kekuatiran, selalu dihinggapi rasa waswas. Oleh karenanya orang yang memiliki semangat yang tinggi adalah orang yang bisa menanamkan pikiran-pikiran positif di otaknya. Maka seorang penakut. Tidak mungkin bisa mempunyai semangat yang tinggi. Allah swt berfirman dalam surat al-ahzab :

فَإِذَا جَآءَ ٱلْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَٱلَّذِى يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ

apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati (QS al-Ahzab 19)

tegasnya rasa takut akan mengahalangi seseorang untuk melakukan progress dalam kehidupannya. Mereka memaknai kesulitan sebagai sebuah penderitaan, selalu lari dari kenyataan dengan mempersiapkan seribu alasan.

Keempat, kurang pergaulan. Kurangnya pergaulan dapat menyebabkan semangat melemah, Karena orang yang pergaulannya sempit, otomatis cara berpikirnya sempit. Sehingga dia cenderung berpikir skala kecil cenderung egois dengan memikirkan dirinya sendiri. Orang semacam ini. Tidak mungkin memiliki semangat yang kuat dan tidak mungkin memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Lihatlah para nabi dan para pewarisnya mereka selalu bergaul dengan bermacam macam masyarakat dengan latar belakang yang berbeda beda, karena luasnya pergaulan mereka maka pengetahuan mereka menjadi luas dan selalu berpikir besar sehingga manfaat merekapun dapat dirasakan oleh masyarakat pada zamannya bahkan orang orang yang hidup setelah zaman mereka, tulisan tulisan mereka, sejarah mereka, nasehat nasehat mereka abadi tak lekang oleh waktu bahkan sampai sekarang pun kita bisa merasakan kekuatan semangat mereka.

Semoga kita dijadikan santri-santri cerdas dengat semangat yang kuat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *