Menjadi Santri Progresif (3); Urgensi Fiqih Prioritas

mas ariaOleh : H. Aria Muchammad Ali, Lc

Santri Progresif adalah santri yang mempunyai keseimbangan dalam berpikir, logis dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dalam melakukan suatu pekerjaan. Kita sering mendengar kata fiqih prioritas. Secara singkat fiqih prioritas adalah kecerdasan seseorang dalam mendahulukan sesuatu yang lebih penting dari yang penting. Mendahulukan yang pasti dari yang tidak pasti. Mendahulukan hal-hal utama dari hal-hal yang biasa saja. Sebagai ilustrasi, seorang santri yang melakukan puasa sunah senin-kamis merupakan hal yang baik. Akan tetapi apabila puasanya tersebut bisa mengganggu proses belajar-mengajar maka puasa sunah itupun bisa bernilai negatif.. Karena dia melakukan hal yang sunah dengan meninggalkan kewajibannya untuk belajar. Begitu juga orang yang disibukkan melakukan ibadah-ibadah sunah tetapi banyak kewajibannya yang terbengkalai. Suatu saat Ibnu Umar pernah ditanya oleh penduduk iraq: “Bagaimana hukumnya sholat dengan pakaiaan yang terkena darahnya nyamuk.” Maka beliau menjawab: “kalian tidak segan menumpahkan darah al-Husain cucu Rasulullah, sedangkan kau datang kepadaku hanya untuk bertanya tentang hukum darah nyamuk, sungguh kalian suka bertanya tentang hal-hal kecil sedangkan kalian tidak segan-segan melakukan dosa-dosa besar.”

Maka pemahaman yang benar dalam agama ini memerlukan pengetahuan tentang fiqih prioritas dan keseimbangan cara berpikir untuk menimbang dan mengambil keputusan ketika ada pertentangan antara suatu kemaslahatan dengan suatu bahaya dalam sebuah kasus. Orang bijak punya semboyan: “Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu baik dan buruk. Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang lebih baik dari dua kebaikan dan yang lebih buruk dari dua keburukan.” Untuk bisa menjadi santri yang progresif, seseorang harus memahami fiqih prioritas, dengan mengamalkan kaidah-kaidah berikut.

  • Santri progresif adalah santri yang memperhatikan dengan seksama amal dan aktifitas hati sebelum memperhatikan amalan badan. Karena apabila hati sudah baik, maka baik pula seluruh amal kita. Namun apabila hati kita buruk, maka percuma kebaikan yang tampak di mata manusia. Karena siapa saja yang memperbanyak ibadah-ibadah yang tampak dan bersungguh-sunguh mengerjakannya tanpa mau memperbaiki batin hatinya. amalan-amalannya akan terbuang percuma karena dicampuri ujub dan riya’. Sejarah mencatat kaum khawarij adalah kaum yang sangat rajin beribadah dan berdzikir kepada Allah swt. Mereka mengerjakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan. Akan tetapi, mereka lupa dan lalai bahwa sesungguhnya diterima dan ditolaknya sebuah amal tergantung pada kebaikan hati. Dalam hadits Rasulullah saw. Mensifati mereka dalam sabdanya: “Mereka lepas dari agama sebagaimana anak panah lepas dari busurnya.” Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda: ”Mereka gemar membunuh orang islam dan membiarkan orang-orang yang menyembah berhala.” itu semua bermula karena di batin mereka ada kesombongan yang samar yang menyetir mereka untuk menyesatkan, mengkafirkan seluruh umat islam serta meyakini hanya mereka saja yang benar, selainnya adalah salah. Maka tergelincirnya khawarij karena mereka tidak memahami dan mengamalkan fiqih prioritas. Mereka mengamalkan sesuatu yang penting tetapi meninggalkan hal yang lebih penting.
  • Santri progresif adalah santri yang memprioritaskan mempelajari ilmu-ilmu dasar sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lebih tinggi. Ibarat sekolah, seseorang yang belum bisa membaca kemudian dia mempelajari desertasi-desertasi yang ditulis oleh para doktor hanya akan membuang-buang waktu saja. Seseorang yang belum bisa membaca al-fatihah dengan benar kemudian dia bergaya dengan mempelajari qiraah sabi’ah termasuk orang yang tidak memahami fiqih prioritas. Selain itu makna fiqih prioritas juga mendahulukan pendidikan yang berbasis tarbiah dengan teladan yang baik dari sekedar omong kosong teori. Pada saat penaklukan kekaisaran persia dimana seluruh harta rampasan diserahkan kepada sayidina Umar bin Khattab. Beliau berkata: “sesungguhnya harta rampasan Ini telah disampaikan kepada orang yang dapat dipercaya” maka Sayidina Ali menyahut dengan berkata: “ketika engkau wahai umar, dapat menjaga dirimu(dari mengambil harta rampasan) maka pasukanmu juga menjaga diri mereka.” Sayidina umar merupakan sosok teladan, sebelum memerintahkan sesuatu maka yang pertama kali diperintah adalah dirinya sendiri. Bahkan dalam sebuah riwayat apabila umar melarang rakyatnya dari suatu hal, dia mengumpulkan keluarganya seraya berkata: “Sesungguhnya aku melarang manusia dari begini dan begitu dan manusia melihat engkau wahai keluargaku sebagaimana seekor burung pemakan bangkai melihat daging. Demi Allah, aku tidak mendapati kalian melanggar larangan itu kecuali aku akan menghukum kalian dua kali lipat.” maka keberhasilan Sayidina Umar dalam memimpin umat karena kecerdasan beliau dalam memahami dan mengaplikasikan fiqih prioritas.
  • Santri progresif adalah santri yang memprioritaskan sesuatu yang fardhu dan wajib dari sesuatu yang sunah. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mensifati orang yang sibuk mengerjakan sesuatu yang sunah dengan meninggalkan kewajiban sebagai orang-orang yang tertipu. Oleh karenanya dalam hal ini Rasulullah saw. melarang seorang istri untuk puasa sunah kecuali atas izin suaminya. Karena dengan puasa sunah itu dia meninggalkan kewajiban-kewajibannya kepada sang suami. Para ulama memiliki semboyan :

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ, وَ مَنْ شَغَلَهُ النَّفْلِ عَنِ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

Barang siapa yang disibukkan dengan kefardhuan dari mengerjakan hal-hal yang sunah, maka orang tersebut adalah orang yang ma’dur(Orang yang berudzur). Dan barang siapa disibukkan dengan kesunahan dari mengerjakan hal-hal yang fardhu maka orang tersebut adalah orang yang tertipu.

Para ulama salaf merupakan sebaik-baik contoh dalam menerapkan fiqih prioritas. Abu Sulaiman al-Darani berkata: “Barangsiapa yang merasakan nikmat dengan beribadah sunah kemudian datang waktu ibadah fardhu dan dia tidak memutusnya, maka dia adalah orang-orang yang terperdaya.” dikisahkan dari sebagian ulama salaf ada yang setiap tahunnya haji dengan berjalan kaki dengan penuh semangat namun pada suatu malam ia tidur dan ibunya memerintahkannya untuk mengambilkan air minum, ia merasa berat hati kemudian dia mengingat ibadah hajinya yang setiap tahun dilakukan dengan senang hati. Maka kemudian dia menangis dan bertobat kepada Allah karena dia sadar hajinya merupakan haji yang dicampuri dengan riya’, semangatnya untuk menjalankan kewajiban untuk taat kepada ibunya telah dikalahkan dengan semangat untuk haji sunah. Termasuk dalam fiqih prioritas adalah mendahulukan fardhu ain dari fardhu kifayah. Hal ini dapat kita pahami dari hadits Rasulullah saw. Ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw dan meminta izin untuk berjihad. Maka Rasul bertanya: “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?”. Ia menjawab “Iya.” Maka berjihadlah untuk berbakti kepada kedua orangtuamu.” (Mutafaq alaih).

  • Santri progresif adalah santri yang memprioritaskan meninggalkan larangan-larangan Allah dari mengerjakan perintah-perintahNya. Karena Rasulullah saw. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bersabda “Apabila aku melarang kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah hal tersebut. dan apabila aku memerintahkan kepada kalian sesuatu, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian” dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah lebih berat dari mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah. Karena larangan sama sekali tidak ada dispensasi untuk mengerjakannya. Sedangkan perintah, kita hanya dituntut sesuai dengan kemampuan kita. Seorang ulama besar pada zamannya. Tabi’in yang sangat luas keilmuannya. Maimun bin mihran pernah berkata: “Berdzikir kepada Allah dengan lisan merupakan sesuatu yang baik. Tetapi lebih baik dari itu, ketika seorang hamba mengingat Allah dalam maksiat kemudian dia meninggalkannya.” maka tidak heran jika sebagian ulama berkata: “Amalan-amalan kebaikan dapat dilakukan orang baik dan orang buruk. Sedangkan maksiat, maka tidak bisa meninggalkannya kecuali orang-orang yang dekat kepada Allah.” Sufyan al-Tsauri berkata: “Makanlah makanan halal dan shalatlah di shaf terakhir, niscaya shalatmu diterima. Dan jangan makan makanan haram kemudian kamu shalat di awal shaf, karena shalatmu tidak akan diterima.”
  • Santri progresif adalah santri yang memprioritaskan amalan yang manfaatnya berdampak luas daripada amalan yang manfaatnya hanya kembali kepada diri sendiri. seperti mengajar manusia ilmu yang bermanfaat lebih utama daripada berdzikir kepada Allah sendirian. Begitu juga orang yang setiap bulan pergi umrah ke tanah suci, akan lebih baik bila uang yang dibelanjakan untuk umrah digunakan untuk menyekolahkan anak-anak kurang mampu yang ada di sekitarnya. Ibadah umrah adalah ibadah yang sangat mulia namun manfaatnya hanya kembali kepada diri sendiri. Sedangkan menyekolahkan anak-anak yang kurang mampu, maka manfaatnya akan berdampak luas bagi masa depan anak-anak itu sendiri dan membangkitkan kepedulian masyarakat untuk mau berbagi kesejahteraan dengan sesama.
  • Santri progresif adalah santri yang cerdas memilih amalan yang ringan namun besar pahalanya di sisi Allah swt. Sebagai contoh, ketika kita membaca sayyidul istighfar Setiap pagi dan sore.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Merupakan amalan ringan namun pahalanya sangat besar dengan dijaminnya kita sebagai ahli surga pada hari itu. Ketika kita masuk ke pasar, pusat perbelanjaan, mall, pusat-pusat perniagaan kemudian kita mau membaca doa masuk pasar.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Doa ini adalah doa yang sangat singkat namun pahalanya sangat luar biasa. Dengan sekali membacanya dicatat bagi kita satu juta kebaikan, dihapus satu juta keburukan dan diangkat satu juta derajat kita. Orang yang memahami fiqih prioritas tidak akan melepas sekejap pun dari waktunya. Kecuali diisi dengan amalan-amalan yang mudah, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja namun bobot dan pahalanya sangat agung. Semisal dengan memperbanyak shalawat, banyak beristighfar dan banyak bertasbih dengan mengucap:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Rasulullah saw. bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ, حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ; سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ رواه البخاري ومسلم

Dua kalimat yang ringan diucapkan, berat di mizan (timbangan amal) dan sangat-sangat dicintai Sang Maha Pengasih. Subhanallahi wa bihamdihi Subhanallahi al-adhim.

Ini adalah contoh dari amalan-amalan ringan namun pahalanya besar. Semoga kita bisa mengamalkannya.

  • Santri progresif adalah santri yang mendahulukan amalan-amalan dengan dasar yang kuat dengan bersandar kepada al-Quran dan al-sunah. Bukan mengamalkan amalan-amalan aneh yang terkadang sama sekali tidak memiliki sandaran dari al-Quran dan al-Sunah. Dalam setiap amal, seseorang harus tahu apa dalil yang dijadikan pijakan dari amal tersebut. Oleh karenanya, bila seseorang tidak tahu dasar dari sebuah amalan, maka seyogyanya dia bertanya kepada alim ulama yang mengerti tentang hal tersebut. Supaya kualitas amalnya bisa dijaga dari hal-hal yang tidak berdasar dari al-kitab dan al-Sunah. Sebagai contoh, seorang santri progresif akan mengamalkan hadis-hadis shahih terlebih dahulu sebelum mengamalkan hadis-hadis dhoif. Karena mengamalkan hadis shahih pijakan dalilnya tidak diragukan lagi. Adapun mengamalkan hadis-hadis dhoif, walaupun boleh apabila memenuhi syarat-syaratnya sebagaimna disebutkan dalam disiplin ilmu mustholah al-Hadis. Namun, prioritasnya tetap mengamalkan yang shahih dulu sebelum yang dhoif.

Semoga kita dijadikan santri progresif yang mampu memahami dan mengamalkan fiqih prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *