Siswa

Pendidikan Indonesia

Benar, Indonesia memang di tangan kita. Nasib bangsa ini kitalah yang menentukan. Kitalah yang akan menentukan kea rah manakah tanah air kita akan berkembang.

Generasi kita, merupakan karunia Allah azza wa jalla, karena kita merupakan salah satu generasi dengan populasi usia produktif yang sangat luar biasa besar.

Pertanyaannya adalah, apakah peran generasi kita? Apakah kita sang “anugerah” ataukah kita sang “bencana”? Sang “anugerah” yang akan membawa negri ini menjadi negri yang maju. Ataukah sang “bencana” yang hanya justru menjadi beban Negara ini?

Jawabannya tiada yang tau. Hanya kita, diri kita sendiri yang dapat menjawabnya, sekaligus menjawab harapan mereka, mereka yang telah mempercayai kita sebagai pemimpin.

Yang terakhir, janganlah kita mempersoalkan persoalan, karena kelakuan tersebut adalah ciri orang yang tak bisa menyelesaikan persoalan.

Masalah yang perlu kita atasi sekarang adalah bagaimana memajukan kualitas pendidikan di tanah air tercinta kita ini. Setelah kurikulum 2004 dan 2006 di terapkan di sekolah-sekolah, ternyata kurang mampu untuk mengembangkan dan mematangkan kualitas pendidikan tanah air kita. Kurikulum-kurikulum yang lalu hanya berbasiskan materi sehingga apa yang disebut dengan keterampilan dan kreativitas kurang terasah bila menggunakan basis kurikulum.

Maka dari itu , saat ini, di negri tercinta kita ini , dikembangkan sebuah kurikulum berbasis kompetensi, yang diharapkan dengan kurikulum ini adalah pelajar tidak hanya terasah dengan materi, namun juga dengan kemampuan untuk berkompetensi dalam peradaban mendatang.

Generasi kita perlu dibangun, sejarah adalah bukti peradaban, sejarah akan selalu berkembang dan berkembang, namun bukan berarti peradaban juga akan selalu berkembang. Generasi produktif kita perlu untuk dibina, untuk didik, untuk dikembangkan hingga menjadi generasi utuh. Bukan generasi yang berat sebelah. Bukan hanya generasi yang mampu menguasai materi pelajaran semata, namun juga generasi yang menguasai berbagai skill demi masa depan mendatang.

Suatu hari, beberapa peneliti melakukan penjelajahan. Kemudian diperjalanan mereka mendapati sebuah lubang yang besar yang didalamnya terdapat sebuah batu yang begitu berkilau.

Salah satu peneliti mencoba untuk meraih batu tersebut dengan tangannya, namun dia tak mampu menggapainya. Peneliti lain mencoba untuk menggapainya juga namun bukan dengan tangannya tapi dengan sebuah tongkat sehingga mampu mencapai batu tersebut dan menggambilnya.

Dari cerita tersebut kita dapat mengambil pelajaran, tentang bagaimanakah mengatasi suatu masalah. Dalam cerita di atas, terdapat dua variabel, variabel pertama adalah variabel manipulatif yang berarti dapat kita atur dan kita ubah dan variabel yang tidak dapat kita ubah. Variabel yang dapat kita ubah dalam contoh diatas adalah tangan kita dan variabel yang tidak dapat kita ubah adalah kedalaman lubang tersebut. Bila kita mampu untuk berpikir jernih maka tak seharusnya kita mempermasalahkan kedalaman lubang yang sejatinya memang sebagai masalah yang harus kita solve, seharusnya kita memikirkan alat yang dapat kita gunakan untuk menyelesaikan malasah kita (variabel manipulatif).

Bila kita analogikan dengan kondisi masa kini, yang menjadi variabel yang tidak dapat kita ubah adalah “kesukaran” untuk mewujudkan pendidikan yang mampu mengembangkan generasi kita menjadi generasi yang utuh, kokoh spiritual mapan intelektual. Lalu, apakah variabel manipulatif yang dapat kita gunakan untuk menyelesaikan masalah generasi kita ? Jawabannya menurut mentri pendidikan kita. Moh. NUH, ialah sistem pendidikan kita saat ini.

Beliau telah berkerja sama dengan berbagai pihak untuk menggarap dan mewujudkan sistem yang beliau cetuskan , yakni K13. Yang mana dengan sistem ini diharapkan muncul generasi-generasi yang produktif.

Menurut penelitian seorang ulama’ salafi tentang suatu kaum, setelah suatu kaum (bangsa) mendapati seratus tahun umurnya maka akan diketemukan beberapa golongan di masyarakatnya.

Golongan pertama adalah para pendobrak, para penggagas ide-ide. Golongan ini merupakan golongan yang memiliki tingkatan vision kedepan yang begitu tajam sehingga selalu melahir kan berbagai ide, berbagai gagasan , dan berbagai hal baru yang dalam perannya merupakan sebagai penggerak roda kemajuan sebuah bangsa.

Golongan kedua adalah para penggembang. Golongan yang tidak pernah puas dengan keadaan yang ada. Selalu mengembangkan segala hal mereka rasa memiliki kekurangan. Tidak pernah takut untuk mengambil resiko demi berkembangnya peradaban dan generasi di bangsa mereka.

Golongan ketiga adalah golongan para penikmat. Yang hanya mampu menikmati keadaan dan tak mau merubahnya, yang berpikir dalam zona aman. Tidak mau melakukan sebuah revolusi dan inovasi. Statis, hanya hal tersebut yang dapat kita dapati dari mereka.

Golongan yang keempat adalah golongan para perakus dan perusak. Golongan yang hanya dapat menikmati apa yang ada dan bukan hanya tidak dapat mengembangkan keadaan, malah mereka adalah golongan yang tidak mau mengembangkan diri dan potensi mereka sendiri. Contoh konkrit dari golongan ini di bangsa kita kini adalah para pelajar yang begitu giat tawur-tawuran dan para pengguna narkotika.

Dibangsa kita ini, golongan pertama dan kedua masih sangat minim keberadaannya, yang pada waktu bersamaan golongan ketiga dan keempat begitu membeludak jumlahnya. Maka dari itu , dibentuklah sistem pembelajaran yang berbasis kompetensi demi terlahirnya golongan pendobrak dan pengembang di negri ini.

Pada sistem K13 ini, para peserta didik ditempatkan untuk dapat berpikir kritis atas segala hal dan berpikir kreatif dengan segala ide.

Namun para pelajar kita malah mempermasalahkan kekuatan daya pikir mereka, yang dalam pikir mereka otak mereka dibatasi dengan IQ, sehingga dapat membatasi daya kreatifitas. Paradigma ini perlu dilurukan kembali. Agar dapat mengembangkan kreatifitas siswa.

 

(Kontributor : Kholilur R., M. Tri Wahyu A., Khafabi Dza G – SMA PROGRESIF)