Guru

SPEAK UP, GUYS!!

Oleh : Ustadzah Junaidah*

Berapa lama kita belajar Bahasa Inggris dan bagaimana hasilnya? Mayoritas kita, terutama sekali saya, mungkin akan menjawab, “sudah beberapa tahun dan hasilnya sungguh sangat tidak menggembirakan.” Ter-La-Lu! Meminjam kata-kata Bang Haji Rhoma. 🙂

Betapa tidak. Pada masa saya, yang masuk usia sekolah dasar tahun 90an, Bahasa Inggris mulai dipelajari sejak di bangku SMP sampai tahun pertama kuliah, atau lebih kurang 7-8 tahun. Hasilnya? Menyedihkan sekali! 🙂 Sedangkan mulai tahun 2000an, Bahasa Inggris sudah dipelajari sejak SD, bahkan ada yang sejak TK. Rafly, sepupu tercinta saya, yang sudah kelas 3 SD, sudah harus belajar Bahasa Inggris, bahkan sebelum dia bisa membaca. Namun hasilnya aku kira sama saja, “just so-so”.

Nah, kira-kira apa masalahnya, mengapa Bahasa Inggris menjadi begitu tidak mudah untuk dipelajari dan dikuasai? Apalagi ditaklukkan? Mari kita cari tahu bersama-sama.

Faktor yang pertama dan utama mengapa Bahasa Inggris tidak mudah untuk dikuasai adalah karena Bahasa Inggris bukan Bahasa Ibu kita. Jadi, jangan salahkan Ibu mengandung. Salahkan saja Bapak, piiiiizz 🙂

Faktor kedua, kurang memadainya sistem pendidikan yang ada, artinya, pelaku pendidikan bahasa Inggris saat ini, baik tenaga pendidik maupun yang dididik, sama-sama tidak memahami teori dan pendekatan yang efektif untuk diaplikasikan dalam mempelajari bahas Inggris.

Faktor ketiga, tentunya adalah faktor internal, yaitu kurangnya kesungguhan pembelajar Bahasa Inggris itu sendiri dalam mempelajari Bahasa Inggris. Mungkin di sini peran guru sangat diperlukan dalam memberi motivasi siswa supaya bersungguh-sungguh mempelajari Bahasa Inggris.

Faktor pertama dan ketiga, saya kira tidak perlu kita bahas. Kita tidak bisa protes mengapa kita dilahirkan di negara yang berbahasa Indonesia. (sudah takdir Ilahi hehehe). Kita juga bisa menyiasati masalah timbul diantara anak didik kita. Fokus kita kali ini adalah faktor yang kedua.

Teori dan Pendekatan Belajar Bahasa Inggris

Menurut Evelyn (2010) dalam English Made Easy, ada 3 teori dalam mempelajari bahasa asing. Pertama, Behaviorism Theory (teori tingkah laku). Menurut pencetusnya, Skinner dan Parlov, belajar bahasa adalah proses pembentukan kebiasaan melalui kegiatan: stimulus – response – reinforcement.

Teori inilah yang mendasari munculnya pendekatan audiolingual yang populer tahun tahun 50 dan 60an, yaitu metode belajar bahasa Inggris yang menekankan drill atau latihan pengulangan. Misalnya dengan cara guru mengucapkan kalimat, dan siswa mengulang ucapan guru tadi beberapa kali. Dengan kata lain, metode ini adalah menghafal pola kalimat atau percakapan bahasa Inggris dengan cara mengucapkannya berulang-ulang.

Kelemahan metode ini adalah ketidakmampuan siswa untuk membuat kalimat-kalimat baru selain yang telah dihafal. Dan kenyataannya, sedikit sekali orang yang bisa mempertahankan hafalannya dalam waktu yang cukup lama.

Kedua, Cognitive Theory (Teori Kognitif). Menurut Chomsky, dalam mempelajari bahasa, manusia diciptakan dengan kemampuan kognitif, yaitu memproses masukan yang diterima dan menciptakan kalimat-kalimat baru yang tidak terbatas jumlahnya. Teori ini mendasari munculnya pendekatan baru dalam belajar bahasa Inggris, yaitu penekanan tata bahasa (grammar).

Kelemahan dari belajar bahasa Inggris dengan pendekatan grammar ini, seseorang kesulitan untuk menggunakan bahasa Inggris lisan secara lancar, karena dalam berbahasa lisan dituntut respon yang cepat. Selain itu, banyak kalimat yang secara gramatika benar, tetapi tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan (lisan).

Ketiga, Acquisition Theory (Penyerapan Bahasa Secara Alami). Menurut Krashen (1983), proses belajar bahasa terdiri dari 2 cara, yaitu aqcuisition dan learning. Aqcuisition yaitu proses belajar bahasa secara alami dari pengalaman langsung dalam berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Sedangkan learning adalah proses belajar bahasa melalui pemahaman unsur-unsur bahasa yang kemudian digunakan untuk berkomunikasi.

Menurut Krashen, untuk bisa berbahasa Inggris, sesorang tidak perlu belajar secara formal. Cukup dengan pengalaman langsung berkomunikasi dengan bahasa tersebut, seseorang dapat menguasinya. Misalnya seorang anak kecil yang secara alami dapat berbicara sesuai bahasa Ibunya. Hal ini mirip yang terjadi pada saya. Saya adalah orang Jawa yang sehari-hari berbicara bahasa Jawa. Ketika berusia 12 tahun (setelah lulus SD), saya tinggal di lingkungan yang bahasa sehari-hari nya adalah bahasa Madura. Pada awalnya saya tidak mengerti apa yang diucapkan orang-orang di sekitar saya. Karena sering mendengar dan kebutuhan mempelajari bahasa Madura, akhirnya saya bisa berbahasa madura dalam waktu enam bulan.

Kelemahan metode Krashen ini hanya cocok bagi anak kecil, dan sulit bagi orang dewasa. Acquisition ini memerlukan waktu yang lama, yang umumnya tidak dimiliki oleh orang dewasa. Bayangkan jika untuk mempelajari bahasa Inggris kita harus tinggal di negara yang menggunakan bahasa Inggris, tentu membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar.

Kesimpulan

Dari ketiga teori dan pendekatan dalam mempelajari bahasa tersebut, Evelyn menyimpulkan, untuk memperoleh hasil yang optimal, seseorang menggunakan pendekatan eclectic, yaitu menggabungkan kelebihan yang ada pada masing-masing teori.

Misalnya, untuk belajar pronunciation (pengucapan), bisa menggunakan behaviorism theory dengan menekankan perlunya meniru dan mengulang. Untuk belajar grammar dengan menggunakan cognitive, dan untuk memperlancar kemampuan bicara dengan pendekatan aqcuisition. Buat saya dan mungkin juga Anda yang sudah hampir frustasi belajar bahasa Inggris, mungkin bisa melakukan pendekatan eclectic ini, agar lebih efektif, serta mendapat hasil yang optimal.

Berikut ini saya bagikan teori yang sudah saya praktekkan. Mungkin dengan cara ini ada progres yang bisa kita dapatkan, amin. Untuk bisa berbahasa Inggris dengan (lumayan) lancar, simak yang tiga ini:

  1. Don’t be shy ( jangan malu ). Ingat! Kita belajar untuk menigkatkan kemampuan kita, bukan tetangga kita atau bos kita. Jadi, jangan terlalu menghiraukan ejekan mereka. Jika ditertawakan, jawab aja “ Masalah buat loe”, okay.
  2. Don’t be afraid ( jangan takut ). Tidak ada yang akan membunuh Anda jika kita salah mengucapkan kata “friend” menjadi “pren” meskipun presiden Barrack Obama sekalipun. Belum tentu juga orang yang menertawakan Anda lebih bisa dari Anda. So, maju terus pantang nyerah bro!
  3. Praktice ( praktekkan ). Kalau sudah belajar teori, ya harus dipraktekkan. Jangan disimpan. Tidak akan berubah menjadi berlian. Ini yang terjadi pada saya. Saya sudah lumayan lancar berbahasa Madura ketika tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Ketika saya kemabali ke Surabaya dan berbicara bahasa Jawa, secara perlahan namun pasti kosa kata bahasa Madura yang saya miliki perlahan hilang dari memori saya. Bahasa adalah keahlian. Semakin diasah akan semakin baik. Semakin sering dipraktekkan akan semakin lancar. Sama seperti orang belajar naik sepeda. Perta, kedua, ketiga mungkin dia akan sering jatuh. Tapi lama kelamaan akan bisa mengendarai sepeda dengan lancar karena sering berlatih ( ini juga saya alami ).

Nah, selamat belajar. Semoga ini bermanfaat. DON’T GIVE UP !

* Guru Bahasa Inggris SMP Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo

One thought on “SPEAK UP, GUYS!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *